Postingan

Menampilkan postingan dengan label puisi

Dongeng Tanpa Judul, Tanpa Ujung

Suatu pagi aku terbangun dan menemukan rumahku adalah kota besar nan megah Gedung-gedung tinggi mencakar cakrawala nun jauh di sana Aku hidup di kota besar, ingar-bingar adalah sarapan balita hingga lansia Aku hidup di tengah kabut pekat yang begitu jauh dari debur ombak Yang jauh dari biru yang paling biru Anak-anakku hanya kusisakan cerita demi cerita tentang masa lalu yang jaya Cucu-cucuku kuceritakan tentang orang-orang yang pernah merasa Berjaya Mereka hanya tertawa dan mengira aku sedang mendongeng belaka : tentang ombak : tentang perahu : tentang karang : tentang laut : tentang biru : tentang.. : tentang ketenangan, tentang keindahan Padahal ayahku kerap bercerita tentang ikan-ikan yang melompat kegirangan di pinggir perahu sederhananya Padahal ibuku kerap bercerita tentang otot kakek bekas menjala ikan di samudra raya Sedang aku hanya dikira sedang mendongeng kisah-kisah yang tak pernah ada Nenek moyangku orang pelaut Gemar mengarung...

Malin Kundang Tak Jadi Kondang

Sesungguhnya badai tidak pernah memporak-porandakan kapalnya Langit cerah menyambut mereka mengarung Selat Mentawai Dan si Anak pergi dengan selamat Ibu telah mengikhlaskan si Malin "Biarlah Ia hidup bahagia," Maka terjadilah: Anak durhaka tak pernah menjadi legenda Hingga waktu yang telah ditentukan Ia akan kembali ;Bersujud di kaki ibunya ;Menangis tersedu ;Dan memohon ampun "Jangan kutuk aku jadi batu." cp: tulisan ini dibuat untuk memenuhi nilai Penulisan Kreatif, kategori puisi naratif atau balada. 

Gadis Mawar

Mantra apa rupanya yang berceriap? Hai Gadis pembawa duka lara! Aroma apakah yang semburat pada ucap? Hai Gadis penabur luka! Gairah bergemerlap dalam sekali usap sapa Malam benderang meski sesaat tarian rupa Kau jamu segala tamu dengan kasih Tak satupun gelas kosong tersisih   Mata belalak lekuk gerak Tawa gelak rambut berurai acak Semesta menjadi bayang Merelakan jiwanya hempas tanpa sungkan Gadisku! Ah, Gadisku Gadis mawarku yang cantik Cukup kau tisik aku dengan durimu! Simak. Simaklah aku yang lolong dalam bisik!

Sebilang Teka-teki

Gambar
Merah Marun Media: Cat air di atas kertas Di balik kemaluan yang tak akan mau dicukur Di dalam ruang yang orang lain tak akan mau tahu Di antara rerimbaan yang tumbuh subur Di tengah tapak gelombang yang sejauh kita mau  ; Diam-diam menyembunyikan diri ; Diam-diam membunyikan diri Kediaman, 17 November 2014 *Catatan pengarang: tidak ada. 
Aku hanyut di sudut Dilumat lamat risau bulat

Sang Pramuka

Kepal tangan kaki hentak-hentak bumi Ramai-ramai tepuk jemari mencipta harmoni Biar keringat sudah gumul juga tak peduli Sambil bibir komat-kamit mendoa darma-darma Di sana yang itu asik-masyuk dirikan tenda Di sini yang ini tandu sudah siap sedia Kerja! Kerja!  Bergerak! Bergerak!  Tak usah omong gombal di mana-mana Ini tanda sayangku, hai Juara; Jadilah pemuda penuh karya!

Di Sela Waktu yang Melonjak-lonjak Semaunya

   Cerita yang bikin sumringah mungkin hanya dimiliki oleh waktu-waktu yang melonjak girang, sedangkan waktu-waktu yang melonjak semaunya itu paling pandai membuat hati jadi penuh kerutan.    Aku telah lama beringsut dari kamar tanpa cerita yang tidak kusanga-sangka; ternyata pernah membuatku bahagia --masih membuat hati carut-marut.    Dan kamar yang sempat kusebut tadi itu telah terlupa begitu saja, bahkan mungkin sengaja  dilupa-lupakan. Ingatan yang tersisa bukanlah tentang jentera bianglala atau dialog-dialog tentang apa saja. Yang tetap tinggal hanyalah sisa tawa kita di kotak bertututup kerucut --yang bisa habis kapan saja.    Semoga kau baik dan senantiasa sehat.
Kutanya, "katanya?" "Kutanya." katanya. Tak berujung; judulnya.

Pada Waktu-waktu yang Bisa Jadi Lain

Pada waktu senggang yang lain, Di antara senggama yang sama Tak ada lagi ujung yang berkedut Atau pertemuan antara libido dan janji sehidup semati Napas-napas makin lengang Sementara jalang jadi bulan-bulanan, Yang satu menunggu tuan berpulang Pada waktu senggang yang lain, Tak ada senggama yang sama lagi Pun yang lain :Segan pulang :Segan melakukan Enggan!
Selamat datang, serunya. Ketika kutanya ke mana, ke dirimu sendiri dijawabnya. Baiklah. Silakan mampir sesekali. Berbagi cerita yang sempat lupa diceritakan ketika aku asik jelajah di negeri orang.

Belum Berubah

Bukan meragukan kemampuan mengingatmu.  Cuma mau mengingatkan.  Barangkali lupa.  Jangan tersinggung. :Tak perlu ada kata-kata (yang lebih panjang dari ini)

Sekar Nembang

Pada lelaki baik yang belum kukenal baik Bukan kekasihku, Baru kubaca suratmu untuk seseorang yang dalam suratmu kau panggil Dinda. Kau buatkan untuknya kira-kira setahun yang lalu. Tidak kukenal kau. Pun seseorang itu. Dan suratmu, jelas-jelas tidak membuatku lantas mengenalmu. Tidak banyak yang bisa kuingat dari sekian banyak kata yang kau tulis untuknya, tersirap penutup yang bagiku amat memikat hati. "Kontrakan, 24 April 2013 Dariku, Yang kau manjakan" Begitulah. Dan segitulah isi suratku. Yang ingin kusampaikan padamu memang tak sebanyak yang telah kau sampaikan padanya. Sekian, Lelaki baik yang belum kukenal baik, bukan kekasihku                                    Musim pancaroba, 2014                  dariku...
Meringkuk di bawah selimut setelah seharian menahan kantuk luar biasa sampai-sampai kepalanya terantuk pintu yang belum sempat ia ketuk. Meringkuk di bawah selimut dengan perasaan kikuk karena kepalanya gatal minta digaruk tetapi tertunda karena tiba-tiba kerongkongannya pun tiba-tiba gatal lalu batuk-batuk.

Foto Jadul

Kutemukan di laci paling bawah, tak pernah aku buka, bersarang laba-laba Kutemukan selembar Tak banyak yang bisa kuceritakan :Berwarna sephia dengan garis putih membingkai :Bercak-bercak jamur memenuhi hampir semua bagian Tak banyak yang bisa kuceritakan, tapi senyum yang tertera jelas sekali meceritakan sesuatu :Mereka punya cerita

Tak Perlu Ada Kata-kata (yang Lebih Panjang dari Ini)

Dan tak perlu ada mata yang saling tatap Dan tak perlu ada jemari yang saling genggam : karena kalian telah menyatu, ruh Semesta juga tahu!

Puncak Puting

Di tengah hujan badai tengah malam, aku masih di tengah panjangnya jalan Komat-kamit berdoa : doa apa saja yang penting aku tidak diam Pun doa bergenre keroncong atau dangdut Petir mengusap setiap sudut yang bisa kulihat Tak seberapa panjang Dan dari sepanjang yang bisa kulihat, tak ada halte atau pun pos ronda Hanya pohon Hanya pohon Lagi-lagi pohon Lalu pohon Lalu pohon lagi Pohon terus Pohon melulu Mesti pohon : Tak ada tempat buatku berteduh Kata orang tua, tidak boleh berteduh di bawah pohon Sedangkan aku.. Hanya payung yang kupunya, juga harga diri tentunya Tapi lalu bagaimana? Hanya payunglah harapanku Dan puncak putingnya : yang kata orangtua dulu, dapat menangkal petir Baik kalau begitu Mari kembali berjalan di tengah panjangnya jalan! Mari berdoa, keroncong atau dangdut!   

Di Tengah Selayang Lapang

Menggeletakan diri begitu saja Dengan kantung plastik bening --berisi air yang telah habis dan sedotan yang sudah entah dibuang ke mana-- di tangan Tangan satunya sibuk membasuh-basuh keringat di pelipis dan lehernya Matanya menari-nari menatap langit Melayangkan tatapan liar pada sesuatu-sesuatu yang dapat ditangkapnya Sampai... "Dul, layangan urang putus. Hayuklah tuh!" Bangkitlah ia dan mulai berlari mengejar layang yang melayang di bawah matahari yang memandanginya selayang dua layang (lagi) (lagi) (dan lagi)

Tentang Tentang

Melamun. Sukanya hanya melamun. Melamunkan tentang hari ini. Tentang tumpukan mimpi. Di depan cermin, atau di depan gelas kopi. Atau sambil syahdunya menatap kelopak mata sendiri. Kemudian bosan. Dan memutuskan untuk menelpon kekasih. Bercerita tentang hari ini. Tentang tumpukan mimpi. Dan tentang apapun yang ingin diceritakan. Kemudian pulsa habis. Sambungan telepon terputus. Selanjutnya kembali melamun. Tentang hari ini. Tentang tumpukan mimpi. Tentang yang baru saja terjadi. Tentang pulsa yang cepat sekali habis. Tentang betapa untungnya para pengusaha voucher pulsa. Tentang betapa asiknya jika saya jadi penjual pulsa. Tentang.. Tentang.. Tentang.. Tentang betapa mudahnya melamun. Tentang betapa mudahnya membangun mimpi. Tentang.. Tentang.. Tentang aku yang senang bicara tentang tentang. Tentang..
Pada apa yang disebut kasmaran, kita tulis dongeng kita sendiri, kita bangun planet kita sendiri. Dan orang lain hanyalah penonton bisu.
Ini akan jadi lucu jika saya awali dengan kalimat pembuka yang bagaimana? Atau tidak perlu kalimat pembuka yang kesannya hanya basa-basi kemudian berubah menjadi bahasa amat basi semata? Baik. Baik. Begini lho, non . Saya kok merasakan rindu yang luar biasa begitu, ya? Saya kok rasanya pengen mengulang sesuatu begitu, ya? Jeleknya, saya tidak tahu, ra paham, sama apa yang saya rasain. Emang kadang saya suka gini. Mungkin banyak pikiran aja. Jadi campur aduk. Ra jelas mana kenyataan, mana impian. Saya...saya...saya... pengin dipeluk aja, non.