Postingan

Menampilkan postingan dengan label cerpen

Malam Pertama Malam Terang

Ditinggalkan atau meninggalkan hanyalah awal dari bait-bait puisi tentang kerinduan. Sedang kita tidak sadar, rindu adalah dendam yang harus terbalaskan. Aku Malam. Lengkapnya Malam Terang. Aku lahir dan besar di Jakarta. Rumah berlantai dua dengan dinding krem menjadi saksi bisu tumbuh kembangku. Aku sempat tinggal berlima. Ayah, Ibu, Kak Nana, aku, dan Bi Ita. Ketika aku 15 tahun, orangtuaku bercerai. Ayah pergi dan kami tetap di rumah ini. Ayah menikah lagi dua tahun kemudian. Lima tahun berikutnya, Kak Nana menikah dan pindah ke Amsterdam. Di rumah ini tinggal aku, Ibu dan Bi Ita. Dua janda itu terlihat semakin akur setelah aku sering melancong ke luar kota bahkan negri. Kukira rasa saling memiliki di antara mereka akan semakin kuat setelah aku pindah dari rumah ini besok pagi.           Aku Malam. Aku menikah kemarin sore. Suamiku adalah lelaki pilihan Ibu; anak temannya. Kata Ibu, dia pantas untukku. Aku akhirnya menurut setelah terjadi perce...

Uji Kompetensi

Sudah dua tahun saya ikut suami tinggal di Bandung. Lusa setelah ijab kabul, saya segera diboyong suami ke rumah kami sekarang. Tidak ada acara bulan madu-bulan maduan, karena esoknya sudah harus kerja seperti biasa. Maklum, kerja ngikut orang. Dua tahun usia pernikahan, kami belum dikaruniai seorang anakpun. Tentu ada kurang lebihnya, namun kami bahagia-bahagia saja. Kebetulan ketika saya dinikahi, kemarinnya saya baru saja wisuda. Suami sendiri hanya lima tahun di atas saya. Masih sama-sama segar mengejar karir. Hitung-hitung menabung untuk sekolah anak kami nanti. Kedua orangtua saya tinggal di Jakarta. Kami tidak terlalu sering mengunjungi mereka, dengan alasan sibuk atau lelah setelah berkegiatan seminggu penuh. Seringnya kami berkomunikasi lewat telepon. Keduanya senang menanyai "kapan main ke rumah bawa cucu mama?" seakan-akan itu adalah kata kunci untuk bisa mengobrol dengan mereka, atau malah jadi ngomongin tetangga sebelah, "anaknya si anu udah bisa duduk, ...

Menjadi Seniman

Aku, dulu sekali, pernah bercita-cita menjadi seorang seniman. Dengan kata lain, mencurahkan seluruh hidupku untuk seni. Membuat karya seni, mengadakan acara kesenian, pameran, makan dari hasil karyaku. Pokoknya, "seniman" seperti yang orang-orang kebanyakan anggap seniman. Ayahku, kutahu dari raut wajahnya, tidak pernah setuju aku jadi seniman. Ibuku juga, meski ia santai saja dan tetap dengan halus menasihatiku bahwa seni hanyalah "sampingan". Sampai akhirnya aku menikah dengan seorang pria yang kucintai, of course , kini aku resmi bukan jadi seniman dan bekerja paruh waktu di kantor penerbitan yang cukup terkenal di kotaku. Lumayan untuk beli ini-itu yang kusuka tanpa harus mengurangi jatah ongkos dapur dan kreditan mobil serta kulkas dua pintu, kiri dan kanan, seperti punya tetangga sebelah. Sebenarnya aku hampir lupa dengan cita-cita lawasku hingga suatu pagi suamiku mengungkitnya. "Aku belum liat lagi karya-karyamu. Gambar. Puisi. Atau lagu, mungk...

Mabuk

Malam itu, kamu benar, aku mabuk. Sudah dua minggu sejak pertengkaran hebat itu. Tidak ada yang berubah. Lari pagi, minum kopi, membuat sarapan, pergi ke kantor, makan siang, kembali ke kantor, pulang, mandi, tidur, dan perasaanku. Sungguh sedih melihat update statusnya di media sosial, mendapatinya pergi ke salon, berbelanja, makan di restoran, reuni dengan teman-temannya, dan menyadari ini semua baru berjalan dua minggu dan ia begitu bahagia dengan hidupnya tanpa diriku. *** Aku merasa ada yang aneh dengan hidupku baru-baru ini. Tentunya bertahun-tahun melewati hidupku dengannya membuatku hampir 'ketergantungan'. Tanpa pesan singkat di pagi hari, tanpa telepon berjam-jam hingga jatuh tertidur, tanpa kepolosannya yang tidak menyadari aku begitu kesal atas ulahnya.  Tanpa semuanya yang pernah kami lewati bersama benar-benar membuatku canggung. Berat badanku naik lima kilo setelah malam itu, berharap dengan makan, kenangan tentangnya akan hilang bersama kotoran yang ...

Pada Kotak yang Kutemukan Sore Tadi

Usang. Debu di situ dan di sana. Begitulah gambaran sebuah kotak yang kutemukan sore tadi di kamar seseorang yang bisa jadi adalah penulis surat yang kutemukan suratnya di dalam kotak-yang-kutemukan-sore-tadi itu. Atau bisa jadi seseorang yang menerima.  Atau bisa jadi siapa saja. Pada kertas yang tidak lagi baru, kekuning-kuningan, dan tinta hitam kebiru-biruan. Kepada ibu, Saya tidak sedang berniat menulis panjang lebar, Bu. Maaf jika pada akhirnya surat ini terasa panjang dan sangat melelahkan bagimu. Saya tahu pasti kamu mengenal saya, tapi saya tidak mengharapkan hanya sekadar begitu, Bu. Saya ingat betul, sering kali kamu mengucapkan kalimat itu berulang kali. Selain tentunya memberi wejangan-wejangan yang mungkin serupa dengan wejangan para ibu lainnya. Seperti, jaga diri kamu baik-baik, jangan sampai menyesal kemudian hari. Saya ingat betul, Bu. Kamu biasanya mengucap itu jikalau saya melakukan kesalahan. Omong-omong, salah atau betul sesuatunya itu hanya kepala...