Menjadi Seniman

Aku, dulu sekali, pernah bercita-cita menjadi seorang seniman. Dengan kata lain, mencurahkan seluruh hidupku untuk seni. Membuat karya seni, mengadakan acara kesenian, pameran, makan dari hasil karyaku. Pokoknya, "seniman" seperti yang orang-orang kebanyakan anggap seniman.

Ayahku, kutahu dari raut wajahnya, tidak pernah setuju aku jadi seniman. Ibuku juga, meski ia santai saja dan tetap dengan halus menasihatiku bahwa seni hanyalah "sampingan".

Sampai akhirnya aku menikah dengan seorang pria yang kucintai, of course, kini aku resmi bukan jadi seniman dan bekerja paruh waktu di kantor penerbitan yang cukup terkenal di kotaku. Lumayan untuk beli ini-itu yang kusuka tanpa harus mengurangi jatah ongkos dapur dan kreditan mobil serta kulkas dua pintu, kiri dan kanan, seperti punya tetangga sebelah.

Sebenarnya aku hampir lupa dengan cita-cita lawasku hingga suatu pagi suamiku mengungkitnya.

"Aku belum liat lagi karya-karyamu. Gambar. Puisi. Atau lagu, mungkin." katanya sambil menyiapkan sarapan untuknya dan untukku.

Aku tergagap. Tidak siap dengan topik yang ia lemparkan di hari Senin ceria ini. "Belakangan ini aku diburu kerjaan. Banyak naskah yang mesti diedit." jawabku akhirnya.

"Kerjaan jangan dijadiin alasan, dong. Itu, kan, hobi kamu. Kesenangan kamu. Aku belum bisa nyenengin kamu macem-macem, jadi paling tidak kamu mesti pinter nyenengin diri kamu sendiri."

"Itu, sih, alesan kamu aja. Dasar." ujarku sambil membawa dua gelas susu ke meja makan.

"Hahahaha.." tawa renyahnya berderai-derai. Aku cemberut.

"Sayang, jangan karena kamu gak berminat lagi jadi seniman, lalu kamu meninggalkan hobi kamu, lho. Kamu lupa ya, kamu itu seniman. Aku juga seniman. Kita berdua ini seniman. Kita semua ini seniman. Cuma bedanya, ada yang gayanya nyentrik, ada juga yang biasa-biasa aja." ujarnya kemudian menyuapi dirinya sendiri.

"Sejak kapan kamu ngaku seniman?? Dari dulu juga kamu gak pernah mau dibilang seniman." ujarku. Belum juga menyentuh sarapanku.

"Sejak ada yang mencuri jatah susuku." katanya sambil melirik kamar si baby. Kemudian meremas jemariku.

Oh, oke! Setelah sarapan ini, aku akan menelepon tukang susu murni langganan kami untuk minta tambahan satu bungkus susu setiap pagi. *KS*

Ps: ada saran judul?









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulasan Film: Satu Hari Nanti

Emangnya?