Mabuk
Malam itu, kamu benar, aku mabuk.
Sudah dua minggu sejak pertengkaran hebat itu. Tidak ada yang berubah. Lari pagi, minum kopi, membuat sarapan, pergi ke kantor, makan siang, kembali ke kantor, pulang, mandi, tidur, dan perasaanku.
Sungguh sedih melihat update statusnya di media sosial, mendapatinya pergi ke salon, berbelanja, makan di restoran, reuni dengan teman-temannya, dan menyadari ini semua baru berjalan dua minggu dan ia begitu bahagia dengan hidupnya tanpa diriku.
***
Aku merasa ada yang aneh dengan hidupku baru-baru ini. Tentunya bertahun-tahun melewati hidupku dengannya membuatku hampir 'ketergantungan'. Tanpa pesan singkat di pagi hari, tanpa telepon berjam-jam hingga jatuh tertidur, tanpa kepolosannya yang tidak menyadari aku begitu kesal atas ulahnya. Tanpa semuanya yang pernah kami lewati bersama benar-benar membuatku canggung.
Berat badanku naik lima kilo setelah malam itu, berharap dengan makan, kenangan tentangnya akan hilang bersama kotoran yang keluar tiap aku buang air besar. Tabunganku--yang tadinya kusimpan untuk biaya kebaya pernikahan--sudah terpakai beberapa rupiah, berharap bayangan tentangnya akan lenyap begitu saja dengan uang yang terbuang sia-sia. Oh, well, aku tak membutuhkan baju-baju konyol itu. Yang kuinginkan hanyalah ia tidak pernah membohongiku untuk satu hal itu, dan sepertinya ia tampak biasa saja dengan hidupnya setelah pertengkaran hebat kami.
***
Sore ini, sebelum kembali ke rumah, aku memutuskan untuk duduk-duduk sebentar di taman kota. Ini adalah tempat pertama kali kami kencan sungguhan dan menjajaki satu sama lain. Untuk pertama kalinya ia berani melingkarkan kedua tanganya di pinggangku hingga ke perut setelah beberapa kali kami naik motor bersama.
Nyaman sekali rasanya. Kini aku merindukannya sekaligus kenangan dan perasaan itu.
***
"Kamu di mana? Sibuk? Bisa kita ketemu?" kubaca berkali-kali pesan singkat darinya. Apakah ini nyata atau hanya impianku saja, atau memang nyata tetapi sekadar gurauan usilnya saja.
Di saat-saat yang membingungkan seperti ini, kuterima pesan kedua dari orang yang sama. "Sori. Gak maksud ganggu. Cuma pengen tau kamu baik-baik aja di sana."
Tidak dapat lagi kutahan senyumku. Pria ini benar-benar belum berubah. Dia jarang mau menunjukan perasaannya yang sesungguhnya. Dia masih dengan gengsi tingkat tingginya kendati di saat seperti ini.
"Aku baik-baik aja, kalo kamu cuma mau tau itu." kataku akhirnya, setelah mengubah beberapa kali jawabanku. Terkirim. Dua menit, tiga menit, enam menit, sepuluh menit. Tidak juga kudapat balasan. Padahal aku sudah meninggalkan beberapa laporan di meja belajar, mengambil posisi di ranjang bersiap dengan obrolan yang lebih panjang.
Baiklah. Kuputuskan untuk mengirimkannya pesan lagi. Membuang jauh-jauh perasaan jual mahalku sebagai perempuan --yang katanya mesti punya harga tinggi di mata lelaki.
"Aku di rumah. Sama sekali gak sibuk. Sekarang? Bisa banget. Mau ke rumah?"
***
Belum terlalu malam untuk menjangkau rumahnya dari taman, termasuk dengan menerobos kemacetan ibu kota yang mungkin akan memakan waktu satu jam dengan sepeda motorku.
Pikiranku sudah melayang mengingat senyumnya atau bahkan air matanya yang akan meleleh tiap kami bertengkar. Aku tahu betul ia bukan perempuan cengeng atau perempuan yang menggunakan air matanya sebagai senjata agar keinginannya terpenuhi. Ia bisa menitikan air mata melihat kakek-kakek di jalanan yang berjualan asinan atau mendorong gerobak penuh tanaman untuk dijajakan di perumahan-perumahan. Ia bahkan bisa menitikan air matanya saat bercerita tentang panda kelaparan saat kami makan malam.
Aku memikirkan apa yang nanti akan aku utarakan terlebih dahulu. Permintaan maaf atau pernyataan rindu. Aku benar-benar bimbang dan di awang-awang sampai aku benar-benar sampai di depan pagar rumahnya.
***
Ia benar-benar belum berubah. Rambut ikalnya yang dipotong rapi, tanpa kumis dan janggut yang menghalangi wajah kekanak-kanakannya. Ingin sekali kubelai kepala dan wajahnya. Akan tetapi, aku masih harus bisa menahan gejolak perasaanku sampai entah kapan.
"Aku gak ganggu kamu?" tanyanya memecah keheningan.
"Enggak sama sekali. Aku juga lagi nyantai aja, nonton tv sambil tidur-tiduran." jawabku, berbohong. Sengaja kupanjang-panjangkan untuk meyakinkannya aku sama sekali tidak terganggu atas kehadirannya.
"Aku minta maaf, ya." kali ini ia menatapku dalam. Sangat dalam. Hingga membuatku jengah dan memalingkan wajah. Aku diam. Tidak kujawab beberapa saat hingga ia menegurku dengan lembut.
"Sayang.." sapaan yang selalu membuatku gemas dan tidak tahan.
"Aku yang minta maaf. Mungkin kamu udah jujur, tapi akunya yang gak mau denger. Aku cuma pengen manja dan dinomersatuin sama kamu. Aku cemburu sama temen-temen kamu, soalnya kamu gak ada kabar sampe besok siangnya. Aku khawatir, takut livermu kenapa-napa lagi. Aku..." kalimatku terputus. Aku tidak ingin ia mendengar suaraku yang mulai bindeng karena menahan tangis.
"Makasih banget kamu udah khawatirin aku." adalah kalimat pertama yang selalu terlontar dari bibirnya jika aku sudah khawatir berlebihan. "Malam itu, kamu benar, aku mabuk." lanjutnya. Aku hanya bisa menatapnya. Aku tidak percaya, karena ia mengaku sama sekali tidak meminum alkohol pada malam itu.
"Selama di sana aku udah uring-uringan mau pulang tapi gak enak sama teman-temanku. Jadi aku mabuk. Aku mabuk. Terlalu banyak memikirkanmu. Terlalu banyak merindukanmu. Dan.." kalimatnya terpotong. Aku hampir memeluknya, tetapi tidak kulakukan. Aku hanya menunggu dan merasakan ia meremas jemariku.
"Aku sangat mabuk karena terlalu mencintaimu bahkan aku belum sepenuhnya sadar sampai saat ini." aku tetap bergeming. Tidak dapat lagi kutahan senyum sekaligus air mataku. Kurasakan tangannya mengelus rambutku dan wajahku. Ditariknya aku ke dalam pelukannya.
Aku sudah lupa pada segala laporan-laporanku. Nampaknya iapun sudah lupa pada kopi yang sama sekali belum disentuhnya.
Selanjutnya, kami menghabiskan malam dengan hanya duduk di teras rumahku sambil menepuki nyamuk yang hinggap di tangan dan kakiku.
Malam itu, kami mabuk bersama. *K.S*
Ps: gaya bahasa dipengaruhi novel terjemahan setelah membaca Perfect Strangers karya Robyn Sisman.
Sudah dua minggu sejak pertengkaran hebat itu. Tidak ada yang berubah. Lari pagi, minum kopi, membuat sarapan, pergi ke kantor, makan siang, kembali ke kantor, pulang, mandi, tidur, dan perasaanku.
Sungguh sedih melihat update statusnya di media sosial, mendapatinya pergi ke salon, berbelanja, makan di restoran, reuni dengan teman-temannya, dan menyadari ini semua baru berjalan dua minggu dan ia begitu bahagia dengan hidupnya tanpa diriku.
***
Aku merasa ada yang aneh dengan hidupku baru-baru ini. Tentunya bertahun-tahun melewati hidupku dengannya membuatku hampir 'ketergantungan'. Tanpa pesan singkat di pagi hari, tanpa telepon berjam-jam hingga jatuh tertidur, tanpa kepolosannya yang tidak menyadari aku begitu kesal atas ulahnya. Tanpa semuanya yang pernah kami lewati bersama benar-benar membuatku canggung.
Berat badanku naik lima kilo setelah malam itu, berharap dengan makan, kenangan tentangnya akan hilang bersama kotoran yang keluar tiap aku buang air besar. Tabunganku--yang tadinya kusimpan untuk biaya kebaya pernikahan--sudah terpakai beberapa rupiah, berharap bayangan tentangnya akan lenyap begitu saja dengan uang yang terbuang sia-sia. Oh, well, aku tak membutuhkan baju-baju konyol itu. Yang kuinginkan hanyalah ia tidak pernah membohongiku untuk satu hal itu, dan sepertinya ia tampak biasa saja dengan hidupnya setelah pertengkaran hebat kami.
***
Sore ini, sebelum kembali ke rumah, aku memutuskan untuk duduk-duduk sebentar di taman kota. Ini adalah tempat pertama kali kami kencan sungguhan dan menjajaki satu sama lain. Untuk pertama kalinya ia berani melingkarkan kedua tanganya di pinggangku hingga ke perut setelah beberapa kali kami naik motor bersama.
Nyaman sekali rasanya. Kini aku merindukannya sekaligus kenangan dan perasaan itu.
***
"Kamu di mana? Sibuk? Bisa kita ketemu?" kubaca berkali-kali pesan singkat darinya. Apakah ini nyata atau hanya impianku saja, atau memang nyata tetapi sekadar gurauan usilnya saja.
Di saat-saat yang membingungkan seperti ini, kuterima pesan kedua dari orang yang sama. "Sori. Gak maksud ganggu. Cuma pengen tau kamu baik-baik aja di sana."
Tidak dapat lagi kutahan senyumku. Pria ini benar-benar belum berubah. Dia jarang mau menunjukan perasaannya yang sesungguhnya. Dia masih dengan gengsi tingkat tingginya kendati di saat seperti ini.
"Aku baik-baik aja, kalo kamu cuma mau tau itu." kataku akhirnya, setelah mengubah beberapa kali jawabanku. Terkirim. Dua menit, tiga menit, enam menit, sepuluh menit. Tidak juga kudapat balasan. Padahal aku sudah meninggalkan beberapa laporan di meja belajar, mengambil posisi di ranjang bersiap dengan obrolan yang lebih panjang.
Baiklah. Kuputuskan untuk mengirimkannya pesan lagi. Membuang jauh-jauh perasaan jual mahalku sebagai perempuan --yang katanya mesti punya harga tinggi di mata lelaki.
"Aku di rumah. Sama sekali gak sibuk. Sekarang? Bisa banget. Mau ke rumah?"
***
Belum terlalu malam untuk menjangkau rumahnya dari taman, termasuk dengan menerobos kemacetan ibu kota yang mungkin akan memakan waktu satu jam dengan sepeda motorku.
Pikiranku sudah melayang mengingat senyumnya atau bahkan air matanya yang akan meleleh tiap kami bertengkar. Aku tahu betul ia bukan perempuan cengeng atau perempuan yang menggunakan air matanya sebagai senjata agar keinginannya terpenuhi. Ia bisa menitikan air mata melihat kakek-kakek di jalanan yang berjualan asinan atau mendorong gerobak penuh tanaman untuk dijajakan di perumahan-perumahan. Ia bahkan bisa menitikan air matanya saat bercerita tentang panda kelaparan saat kami makan malam.
Aku memikirkan apa yang nanti akan aku utarakan terlebih dahulu. Permintaan maaf atau pernyataan rindu. Aku benar-benar bimbang dan di awang-awang sampai aku benar-benar sampai di depan pagar rumahnya.
***
Ia benar-benar belum berubah. Rambut ikalnya yang dipotong rapi, tanpa kumis dan janggut yang menghalangi wajah kekanak-kanakannya. Ingin sekali kubelai kepala dan wajahnya. Akan tetapi, aku masih harus bisa menahan gejolak perasaanku sampai entah kapan.
"Aku gak ganggu kamu?" tanyanya memecah keheningan.
"Enggak sama sekali. Aku juga lagi nyantai aja, nonton tv sambil tidur-tiduran." jawabku, berbohong. Sengaja kupanjang-panjangkan untuk meyakinkannya aku sama sekali tidak terganggu atas kehadirannya.
"Aku minta maaf, ya." kali ini ia menatapku dalam. Sangat dalam. Hingga membuatku jengah dan memalingkan wajah. Aku diam. Tidak kujawab beberapa saat hingga ia menegurku dengan lembut.
"Sayang.." sapaan yang selalu membuatku gemas dan tidak tahan.
"Aku yang minta maaf. Mungkin kamu udah jujur, tapi akunya yang gak mau denger. Aku cuma pengen manja dan dinomersatuin sama kamu. Aku cemburu sama temen-temen kamu, soalnya kamu gak ada kabar sampe besok siangnya. Aku khawatir, takut livermu kenapa-napa lagi. Aku..." kalimatku terputus. Aku tidak ingin ia mendengar suaraku yang mulai bindeng karena menahan tangis.
"Makasih banget kamu udah khawatirin aku." adalah kalimat pertama yang selalu terlontar dari bibirnya jika aku sudah khawatir berlebihan. "Malam itu, kamu benar, aku mabuk." lanjutnya. Aku hanya bisa menatapnya. Aku tidak percaya, karena ia mengaku sama sekali tidak meminum alkohol pada malam itu.
"Selama di sana aku udah uring-uringan mau pulang tapi gak enak sama teman-temanku. Jadi aku mabuk. Aku mabuk. Terlalu banyak memikirkanmu. Terlalu banyak merindukanmu. Dan.." kalimatnya terpotong. Aku hampir memeluknya, tetapi tidak kulakukan. Aku hanya menunggu dan merasakan ia meremas jemariku.
"Aku sangat mabuk karena terlalu mencintaimu bahkan aku belum sepenuhnya sadar sampai saat ini." aku tetap bergeming. Tidak dapat lagi kutahan senyum sekaligus air mataku. Kurasakan tangannya mengelus rambutku dan wajahku. Ditariknya aku ke dalam pelukannya.
Aku sudah lupa pada segala laporan-laporanku. Nampaknya iapun sudah lupa pada kopi yang sama sekali belum disentuhnya.
Selanjutnya, kami menghabiskan malam dengan hanya duduk di teras rumahku sambil menepuki nyamuk yang hinggap di tangan dan kakiku.
Malam itu, kami mabuk bersama. *K.S*
Ps: gaya bahasa dipengaruhi novel terjemahan setelah membaca Perfect Strangers karya Robyn Sisman.
Komentar
Posting Komentar