Mari Minum Kopi
Ada banyak kisah di balik jendela-jendela berembun ketika penghujan
Terserah pelukisnya, kan?
Kamu yang berkata demikian, kemudian hilang tanpa jawaban
Saya anggap kamu sebagai salah satu pelukis jendela-jendela berembun tadi
Jadi, terserah kamu saja, bukan?
Lalu ini akan menjadi apa?
Sekadar buih pada kopi yang lantas hilang?
Atau menjadi ampasnya yang kemudian dibuang?
Saya senang minum kopi, apalagi sambil duduk bersama kamu
Memang kisah masa lalu, ketika pertengahan penghujan waktu itu
Tapi saya bukan kopi, bukan buih, bukan ampas, atau pun asapnya
Saya adalah salah satu pelukis jendela-jendela berembun ketika penghujan,
dan tetap akan begitu meski kemarau duduk bersama kita; menyesap kopinya
Saya adalah salah satu pelukis jendela-jendela berembun ketika penghujan
Jadi, terserah saya saja, bukan?
Mari minum kopi, meski kamu tidak lagi menemani
Terserah pelukisnya, kan?
Kamu yang berkata demikian, kemudian hilang tanpa jawaban
Saya anggap kamu sebagai salah satu pelukis jendela-jendela berembun tadi
Jadi, terserah kamu saja, bukan?
Lalu ini akan menjadi apa?
Sekadar buih pada kopi yang lantas hilang?
Atau menjadi ampasnya yang kemudian dibuang?
Saya senang minum kopi, apalagi sambil duduk bersama kamu
Memang kisah masa lalu, ketika pertengahan penghujan waktu itu
Tapi saya bukan kopi, bukan buih, bukan ampas, atau pun asapnya
Saya adalah salah satu pelukis jendela-jendela berembun ketika penghujan,
dan tetap akan begitu meski kemarau duduk bersama kita; menyesap kopinya
Saya adalah salah satu pelukis jendela-jendela berembun ketika penghujan
Jadi, terserah saya saja, bukan?
Mari minum kopi, meski kamu tidak lagi menemani