Uji Kompetensi

Sudah dua tahun saya ikut suami tinggal di Bandung. Lusa setelah ijab kabul, saya segera diboyong suami ke rumah kami sekarang. Tidak ada acara bulan madu-bulan maduan, karena esoknya sudah harus kerja seperti biasa. Maklum, kerja ngikut orang.

Dua tahun usia pernikahan, kami belum dikaruniai seorang anakpun. Tentu ada kurang lebihnya, namun kami bahagia-bahagia saja. Kebetulan ketika saya dinikahi, kemarinnya saya baru saja wisuda. Suami sendiri hanya lima tahun di atas saya. Masih sama-sama segar mengejar karir. Hitung-hitung menabung untuk sekolah anak kami nanti.

Kedua orangtua saya tinggal di Jakarta. Kami tidak terlalu sering mengunjungi mereka, dengan alasan sibuk atau lelah setelah berkegiatan seminggu penuh. Seringnya kami berkomunikasi lewat telepon. Keduanya senang menanyai "kapan main ke rumah bawa cucu mama?" seakan-akan itu adalah kata kunci untuk bisa mengobrol dengan mereka, atau malah jadi ngomongin tetangga sebelah, "anaknya si anu udah bisa duduk, lho, Sya. Cucunya tante itu udah bisa ngerangkak, lho, Sya".

Kalau sudah begitu, saya jawab, iya, Ma. Nanti cucu mama juga bisa ngerangkak dan duduk. Kemudian Mama akan memberi wejangan segala macam rahasia keharmonisan rumah tangga dan tetek bengek mengurus rumah.

Kalau kebetulan saya load speaker agar suami ikut dengar, ia senang bergurau, tanyain Ayah dong Ma, rahasianya apa, sih, biar bisa punya bayi selucu Tasya? Kemudian Ayah akan ambil alih telepon dan bicara segala macam kiat-kiat sukses membuat bayi yang lucu dan menggemaskan. Kalau sudah begitu, saya akan pergi ke kamar dan tinggal menunggu uji kompetensinya.

Hari ini adalah hari Minggu. Saya biasa lari pagi dan lanjut yoga di rumah. Pukul 5 saya bangun, segera menyapu dan mengepel, kemudian mengecek persediaan bahan makanan di lemari es. Barangkali bisa saya beli sambil lewat di warung kecil yang menjual sayur dan bahan dapur lainnya. Bawang putih, bawang mer... 

Telepon rumah berdering, memaksa saya beranjak dan mengangkatnya.

"Halo.."
"Syaa.." jawab penelepon terdengar bersemangat.
"Iya, Maaah.."
"Kamu lagi apa, Sya? Baru bangun, deh, pasti." kubayangkan raut wajah Mama yang mulai mengerut sana-sini.
"Udah dari tadi, Ma." aku melirik jam dinding, tidak sabar.
"Sya, barusan Mama ke pasar. Terus pulangnya Mama ngeliat jualan kue pancong. Mama beli banyak. Lupa kalau kamu di Bandung. Ingetnya itu buat sarapan kamu."
Aku terdiam.
"Syaa.. Udah dulu ya. Mama lagi masak, nih. Daahh.." terdengar klek saat telepon di seberang ditutup.

Aku terenyak di tempatku. Seketika aku sudah terjebak di labirin kenangan masa kecil hingga hilang sudah niatku untuk lari pagi. Pikiranku terus mengembara pada hal apapun yang bisa kubayangkan.

Bagaimana rasanya merindukan seorang anak, ya? Bagaimana rasanya melihat anakku nanti sarapan dengan lahap? Bagaimana perasaan Mama ketika aku dipinang orang, ya? Bagaimana... Bagaimana... Bagaimana... 

Aku beranjak ke kamar dan merangkak masuk ke dalam selimut. Kubangunkan suamiku dengan memencet hidungnya. Setelah terjaga, barulah aku menyebut-nyebut namanya dengan tidak sabar dan ramai.

"Ayo! Antar aku ke Jakarta. Aku kangen Mama." kataku sambil menepuk-nepuk lembut pipi kawan setiaku ini.
"Kok tiba-tiba?"
"Iya. Namanya juga kangen. Emang mesti pake rencana segala?"
"Oh, ya udah. Yuk!" sahutnya sambil duduk di atas ranjang.
"Karena aku belum olahraga, kamu temenin aku olahraga, ya." kataku sambil mengecup daun telinganya.
"Kamu, tuh!"
***



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulasan Film: Satu Hari Nanti

Emangnya?

Ulasan dan Kritik Buku: Dua Tanda Kurung | Puisi dalam Puisi Kehidupan Handoko F. Zainsam