Malam Pertama Malam Terang

Ditinggalkan atau meninggalkan hanyalah awal dari bait-bait puisi tentang kerinduan. Sedang kita tidak sadar, rindu adalah dendam yang harus terbalaskan.

Aku Malam. Lengkapnya Malam Terang. Aku lahir dan besar di Jakarta. Rumah berlantai dua dengan dinding krem menjadi saksi bisu tumbuh kembangku. Aku sempat tinggal berlima. Ayah, Ibu, Kak Nana, aku, dan Bi Ita. Ketika aku 15 tahun, orangtuaku bercerai. Ayah pergi dan kami tetap di rumah ini. Ayah menikah lagi dua tahun kemudian. Lima tahun berikutnya, Kak Nana menikah dan pindah ke Amsterdam. Di rumah ini tinggal aku, Ibu dan Bi Ita. Dua janda itu terlihat semakin akur setelah aku sering melancong ke luar kota bahkan negri. Kukira rasa saling memiliki di antara mereka akan semakin kuat setelah aku pindah dari rumah ini besok pagi.
          Aku Malam. Aku menikah kemarin sore. Suamiku adalah lelaki pilihan Ibu; anak temannya. Kata Ibu, dia pantas untukku. Aku akhirnya menurut setelah terjadi percekcokan panjang dengan perempuan paruh baya itu. Ia mengancam akan menelepon Ayah untuk membawaku ke Yogya. Aku mengancam akan menatto dadaku jika ibu tetap memaksa. Ibu bilang, tidak ada lelaki yang mau denganku sampai aku tua jika tetap menolak dinikahkan tahun ini. Sembari kesal aku beranjak. Ibu tahu betul; ia menang.
         Suamiku Arya. Ia duduk di depanku. Tampak tidak canggung merokok dan minum kopi dengan ibu, yang juga merokok di sampingnya. Hanya saja ibu tidak minum kopi, setelah dokter melarangnya 27 tahun lalu. Aku memperhatikan mereka berdua. Aku sendiri tidak terlalu paham topik yang sedang dibahas. Hanya sesekali terkekeh melihat ibu terpingkal sembari memukul-mukul meja, sesekali menepuk-nepuk bahu Arya. Lelaki berkacamata itu sesekali memandangku dengan tawa berderai. Kerutan di pinggir luar matanya ketika tertawa mengingatkanku pada seseorang yang kemarin kutemui.
      Setelah perceraian mereka 14 tahun lalu, kukira aku tidak akan bertemu lagi dengannya. Kubayangkan ia akan menghilang. Ibu akan menikah lagi dan hidupku hancur sepenuhnya. Ternyata kejadiannya tidak seperti itu. Ayah rutin datang ke rumah setidaknya sebulan sekali. Ia senang membawa pizza atau donat. Seringnya martabak keju susu kesukaanku dan Kak Nana. Ibu baik-baik saja, ia ikut makan makanan dari ayah. Rona wajahnya selalu bahagia dan tenang ketika Ayah datang. Ia tidak pernah menikah lagi. Sampai kini aku tidak tahu apa penyebab perpisahan mereka. Mungkin Kak Nana tahu. Tetapi biar saja. Suatu hari aku akan tahu sendiri.
         Aku pernah sangat membenci Ayah. Tepat di ulangtahunku yang ke-17. Aku tidak membuat pesta seperti yang teman-teman lakukan saat itu. Aku hanya memesan meja untuk empat orang di sebuah cafe and resto di daerah Puncak. Tempatnya nyaman. Sebagian besar properti berwarna putih, serta sedikit aksen hijau dan oranye. Kupilih tempat duduk di balkon, menghadap ke perbukitan yang tertutup kabut.
         Hari itu aku memakai sweter kuning gading pemberian Ayah dan celana jeans sebetis. Kupulas wajahku dengan sedikit blush on pink. Rambut bergelombang sepunggung kubiarkan terurai. Aku tidak sabar bertemu Ayah, mengecup keningku, berkata 'wow anak ayah sudah bisa dandan', dan mengecupku sekali lagi. Aku tidak sabar melihat kerutan di pinggir matanya ketika ia tertawa. Dan aku tidak sabar melihat rona bahagia di wajah ibu, menghapus kegelisahan yang tergambar jelas di wajahnya waktu itu. Namun hingga keesokan harinya, bahkan bertahun-tahun kemudian, Ayah tidak pernah datang. Sejak itu kebencianku tidak pernah hilang.
          Dia datang lagi ketika Kak Nana lamaran dan menikah. Ia menghubungi pria itu dari jauh-jauh hari untuk mengenalkan calon suaminya. Tentu saja mereka bertemu di luar. Kak Nana sangat menghargaiku dengan tidak mengajaknya ke rumah. Aku tidak tahu bagaimana pergulatan batin perempuan yang sangat kusayangi itu. Kini aku sudah tahu.
         Kak Nana adalah orang yang paling dekat denganku selain Ibu. Pemilik nama Savana Pagi ini memiliki kelapangan hati seluas namanya. Senyumnya selalu indah seperti matahari terbit. Ia keibuan. Bertolak belakang denganku. Aku memang tidak serampangan atau super jorok. Aku hanya memiliki pikiran dan sifat yang lebih liar dari Kak Nana. Jika ia lebih suka memasak di dapur, aku lebih suka masak di gunung. Jika ia lebih suka mencuci dan menyetrika, aku lebih suka menjemur bajuku setelah arung jeram.
         Menjadi anggota pencinta alam di kampus adalah masa-masa terbaik sekaligus terburukku. Pergi dari rumah berhari-hari, tidur di ruang sekre, jarang mandi, hypotermia, bahkan jatuh cinta pertamaku. Dia sahabatku. Hingga kini kami tidak pernah lebih dari ikatan sahabat. Dia begitu mencintai kekasihnya. Dan perasaan itu hilang sendiri.
         Ibu tidak pernah marah jika dalam beberapa minggu aku tidak pulang. Ketika lulus, justru aku yang sangat merindukan rumah. Sejak itu aku tidak pernah aktif di komunitasku. Lama-lama aku bosan sendiri. Kemudian aku bekerja di koran berita, menjadi wartawan, dan keliling dunia. Aku bahagia. Ibu juga. Walaupun ia sering mengeluh rindu dan khawatir berlebihan. Tetapi ia bisa menahan itu semua dan membiarkanku bekerja, sembari jalan-jalan tentunya.
         Di awal umur 24, ibu mulai mewanti-wanti agar aku lebih banyak di rumah. Tidak gila-gilaan dalam bekerja. Katanya aku harus mulai belajar menata rumah dan memasak. Kuanggap itu hanya angin sepoi-sepoi yang menambah warna baru dalam hidupku. Ibu pun tidak sabar lagi dengan sikapku yang tidak terlalu peduli. Kami pun terlibat pembicaraan serius mengenai masa depanku sebagai perempuan.
        Dimulai dengan cerita ibu, teman-temannya sudah sibuk mengurus pernikahan anak-anaknya. Beberapa sudah menimang cucu.
        "Kamu kapan?" tanyanya.
        "Kan anak pertama Ibu sudah menikah," jawabku sekenanya.
        "Ya terus, anak bungsu Ibu kapan?" matanya melotot mengawasiku.
       "Tapi aku masih asyik, Bu. Masih pengen berkarir," ujarku tidak sabar. Dan setelah itu, terjadi obrolan bahkan percekcokan panjang antara aku dan ibu. Berhari-hari. Hingga keluarlah kutukan dari mulut ibu.
       "Kalau kamu tidak segera menikah tahun ini, tidak ada laki-laki yang mau denganmu. Karena kamu sudah tua dan jelek!" serunya dengan diikuti tawa yang begitu menyakiti hati. Aku tidak bisa menolak. Ibu sudah bersumpah dan aku hanya bisa menunggu-nunggu permainan selanjutnya.
      Beberapa minggu kemudian, aku dikenalkan dengan anak temannya. Tidak jelek. Terkesan pandai dengan kacamatanya. Tetapi tidak kuno. Cukup keren dengan kaus dan kemeja kotak-kotak yang dibuka kancingnya. Pada pandangan pertama aku suka. Aku sendiri lupa memakai baju apa.
       Dua bulan kami menjalin hubungan layaknya orang pacaran. Awalnya kami sama-sama canggung hingga mulai terbiasa dengan kehadiran satu sama lain. Aku tidak terbiasa dekat dengan laki-laki yang bukan teman. Aku tidak pernah pacaran seumur hidupku. Selain karena memang tidak niat, ada sedikit trauma atas perceraian ayah dan ibu.
        Suatu malam, ia mengajakku makan dan terjadilah pembicaraan serius. Ia mengaku menyukaiku dan ingin meminangku. Meski belum terlalu besar rasa cintanya padaku, ia yakin perasaan itu akan tumbuh seiring waktu. Aku menerima pinangannya karena memang itu tujuan kami saling mengenal. Dan sejak itu aku disibukkan dengan keperluan pernikahan. Tidak lupa kuhubungi ayah agar mau menghadiri seluruh rangkaian pernikahanku.
        "Kok kamu bengong, sih?!" seru Ibu sembari mengecup pipiku dan pergi meninggalkan aku dan Arya berdua. Aku mengerjap. Lalu mendapati Arya mengawasiku; penuh tanda tanya di matanya. Aku menggeleng lemah. Wajahku pasti merah.
       "It's ok!" katanya sambil mematikan rokok di asbak. Buru-buru aku menggenggam tangannya. Aku jengah, tetapi kupaksakan untuk bicara. Arya menatapku dalam. Kurasakan hingga ke ubun-ubun.
         "Ada apa?" Arya menggenggam dengan tangan satunya. Kami bergenggaman.
        "Jangan tinggalkan aku seperti dulu Ayah meninggalkanku," tak terasa air mataku menitik satu-satu membasahi meja.
      Kupandangi wajah Arya yang teduh dan terang. Seterang malamku. Seterang malam pertama kami. **





cp: tulisan ini dibuat dalam rangka memenuhi nilai Penulisan Kreatif (2015) dengan beberapa perubahan. 

Komentar

  1. Tulisan yg menarik dan sarat pristiwa. Bahasanya juga enak dan komunikatif. Palingan alur ceritanya yg sedikit perlu diperbaiki. Salam kreatif.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa. Masih kurang latihan. Terimakasih, Gaek.
      Salam.

      Hapus
  2. Tulisan yg menarik dan sarat pristiwa. Bahasanya juga enak dan komunikatif. Palingan alur ceritanya yg sedikit perlu diperbaiki. Salam kreatif.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulasan Film: Satu Hari Nanti

Emangnya?

Ulasan dan Kritik Buku: Dua Tanda Kurung | Puisi dalam Puisi Kehidupan Handoko F. Zainsam