dok. pribadi Hiasan-hiasan kehidupan Menjadi indah ketika menemukan pembalikan. Kesadaran Mata rantai yang tak terputus - Handoko F. Zainsam Membaca Dua Tanda Kurung karya Handoko F. Zainsam seperti membaca kehidupan. Penuh lika-liku dan rahasia. Buku ini menyimpan banyak misteri, seperti sejatinya kehidupan. Buku yang dibuat dari tahun 2002 hingga 2014 ini memiliki misterinya sendiri lewat tokoh-tokoh yang Handoko ciptakan. Alur kehidupan dibuat berbelit dan saling membelit. Handoko pandai menyimpan rahasia kisah setiap tokohnya. Plot demi plot dikisahkan sedemikian rupa, sehingga menimbulkan pertanyaan yang besar. Cukup menarik pembaca untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Membaca halaman demi halaman, puisi demi puisi; seperti menyelami kehidupan kita sendiri. Handoko pandai membelah jiwa pembaca lewat puisi yang ia ciptakan. Puisi-puisinya seperti “tercecer” dan bertebar di tiap kata yang ia tulis. Sajak-sajaknya seakan mampu mengoyak jiwa. Cerita ini dibuka dengan s...
Sumber: pribadi Sebelum masuk ke ulasan, aku mau bilang bahwa tulisan ini gak berisi sinopsis Mama-mama Jagoan . Atau keterangan lengkap mengenai tim produksi. Ini lebih ke unek-unek aku aja. Jadi, lebih baik nonton dulu filmnya baru baca tulisanku, ya, biar ga spoiler. Heheheheheheeheheheheh . Well, a ku benci pada sesuatu yang tidak bisa kutemukan celah untuk kukomentari. Film yang ceritanya dibuat dan disutradarai oleh Sidi Saleh ini bagiku terlalu bikin hanyut; bikin ketawa, bikin nangis, bikin nangis sambil ketawa, bikin ketawa sambil nangis. Film ini--bagi awam sepertiku--terlalu bagus, baik dari segi cerita (termasuk penokohan dan pengaluran), visual, detail, penempatan lagu latar , dan tentu saja dari kualitas pemeran utamanya. Ya, iyalah, Widyawati, Ratna Riantiarno, dan Niniek L. Karim, gitu! Ya, kan?! Tapi, tapi, tapi, jiwa tukang komen emang gak bisa diredam. Hasrat mulut gatel gak bisa dilawan. Walaupun aku sendiri merasa komentark...
Sesungguhnya badai tidak pernah memporak-porandakan kapalnya Langit cerah menyambut mereka mengarung Selat Mentawai Dan si Anak pergi dengan selamat Ibu telah mengikhlaskan si Malin "Biarlah Ia hidup bahagia," Maka terjadilah: Anak durhaka tak pernah menjadi legenda Hingga waktu yang telah ditentukan Ia akan kembali ;Bersujud di kaki ibunya ;Menangis tersedu ;Dan memohon ampun "Jangan kutuk aku jadi batu." cp: tulisan ini dibuat untuk memenuhi nilai Penulisan Kreatif, kategori puisi naratif atau balada.