Postingan

Menjelang Pagi

Lelah menunggu. Apa aku yang harus menghampirimu; lalu meninakbobokanmu, kantuk? Catatan pengarang: ini gaya berpuisi ngikutin gayanya Hilda Winar. "Ceritanya gini. Saya berusaha bikin puisi kayak orang orang. Ala sonian, ala haiku, ala 2,7. Tapi gak mampu. Saya gak sanggup memperkosa puisi. Akhirnya ya gitu. Jadi diri sendiri aja," katanya setelah saya mbanguni beliau. Jadi, gimana? Puisi saya sudah ala-ala Hilda Winar? Catatan pengarang (lagi): maaf ya kalo catatan pengarangnya nya lebih panjang dibanding puisinya.

Menjadi Seniman

Aku, dulu sekali, pernah bercita-cita menjadi seorang seniman. Dengan kata lain, mencurahkan seluruh hidupku untuk seni. Membuat karya seni, mengadakan acara kesenian, pameran, makan dari hasil karyaku. Pokoknya, "seniman" seperti yang orang-orang kebanyakan anggap seniman. Ayahku, kutahu dari raut wajahnya, tidak pernah setuju aku jadi seniman. Ibuku juga, meski ia santai saja dan tetap dengan halus menasihatiku bahwa seni hanyalah "sampingan". Sampai akhirnya aku menikah dengan seorang pria yang kucintai, of course , kini aku resmi bukan jadi seniman dan bekerja paruh waktu di kantor penerbitan yang cukup terkenal di kotaku. Lumayan untuk beli ini-itu yang kusuka tanpa harus mengurangi jatah ongkos dapur dan kreditan mobil serta kulkas dua pintu, kiri dan kanan, seperti punya tetangga sebelah. Sebenarnya aku hampir lupa dengan cita-cita lawasku hingga suatu pagi suamiku mengungkitnya. "Aku belum liat lagi karya-karyamu. Gambar. Puisi. Atau lagu, mungk...

Mabuk

Malam itu, kamu benar, aku mabuk. Sudah dua minggu sejak pertengkaran hebat itu. Tidak ada yang berubah. Lari pagi, minum kopi, membuat sarapan, pergi ke kantor, makan siang, kembali ke kantor, pulang, mandi, tidur, dan perasaanku. Sungguh sedih melihat update statusnya di media sosial, mendapatinya pergi ke salon, berbelanja, makan di restoran, reuni dengan teman-temannya, dan menyadari ini semua baru berjalan dua minggu dan ia begitu bahagia dengan hidupnya tanpa diriku. *** Aku merasa ada yang aneh dengan hidupku baru-baru ini. Tentunya bertahun-tahun melewati hidupku dengannya membuatku hampir 'ketergantungan'. Tanpa pesan singkat di pagi hari, tanpa telepon berjam-jam hingga jatuh tertidur, tanpa kepolosannya yang tidak menyadari aku begitu kesal atas ulahnya.  Tanpa semuanya yang pernah kami lewati bersama benar-benar membuatku canggung. Berat badanku naik lima kilo setelah malam itu, berharap dengan makan, kenangan tentangnya akan hilang bersama kotoran yang ...

Cici Kelinci

  Cici adalah seekor kelinci yang periang. Ia ramah dan senang bergaul dengan siapa saja. Di Sekolah Kelinci, Cici dikenal sebagai murid yang pandai dan rajin. Namun, ada yang aneh dengan Cici. Sudah dua hari ini Cici terlihat murung dan sedih. Biasanya ketika jam istirahat, ia sangat senang bermain petak umpet atau main karet bersama teman-temannya. Namun dua hari ini, Cici lebih senang duduk di pinggir lapangan dan hanya memperhatikan teman-temannya di lapangan. Teman-temannya bingung dengan perilaku Cici. Ibu dan ayah di rumah juga heran dengan perubahan sikap Cici. Sudah dua hari ini Cici tidak mau sarapan, padahal ibu sudah membuat sarapan nasi goreng kesukaan Cici. Semua orang bertanya-tanya dengan perubahan sikap Cici. Di suatu siang, tanpa sepengetahuan Cici, Ibu bertanya pada Tino, kakak Cici yang sedang mengerjakan PR di kamarnya. “Tino, kamu tahu apa yang terjadi dengan Cici? Mengapa Cici terlihat murung belakangan ini?” “Tino tidak tahu, Bu.” Jawab Tino.    Se...

Pangeran dan Permennya

Gambar
  Negeri Lolipopa adalah negeri pembuat permen terbaik yang pernah ada. Permen-permen yang dihasilkan sangat terkenal dan sangat disukai oleh anak-anak di seluruh dunia. Setiap pabrik permen di sana membeli gula dari toko Pak Tori Roti karena tidak ada yang bisa mengalahkan kualitas tebu yang dihasilkan oleh pabrik tebu milik Pak Tori Roti.        Negeri Lolipopa dipimpin oleh Raja Oriz yang sangat ramah dan baik hati. Raja Oriz selalu menerima dan mau mendengarkan pendapat-pendapat rakyatnya. Dengan begitu, ia sangat disegani dan dihormati rakyatnya       Raja Oriz memiliki seorang putra yang bernama Tectona Grandis. Ia lincah dan kuat, sesuai namanya yang dalam bahasa latin berarti pohon jati. Meskipun kuat dan lincah, Pangeran Tona memiliki kebiasaan buruk. Ia sangat gemar makan permen dan manisan, tetapi ia kurang rajin menyikat gigi. Walaupun begitu, Pangeran Tona sangat baik hati kepada teman-temannya. Ia senang membagika...

A(dalah)ku

Gambar
Warna Sepatu Media: pensil warna di atas kertas Pengakuan sudah terpaku Tak takut meski tak diaku Di aku terterima kaku A punyaku B bukan  Selebihnya ringkas-rangkum baku A Ak!  T..ak! Takutak! Takutangkap hap! Tarakutangkap hap hap! Japsekejap pejam tak! A dalah ku Kudalah, A!   Mengaku sudah mengaku Takapatak? Catatan: Gambar dibuat sekitar tahun 2011-2012 untuk memenuhi nilai seni lukis kelas seni budaya ketika pengkarya duduk di kelas 11. Sedang tulisan dibuat pada 20 Desember 2014.

Rasaba Berapasa

Remang bayang sungsang Pengap gelap lesap Lari cari ari Desah lemah resah Perut carut larut Kebun timbun rabun Gula gila mula Bisa asa basa Badepa asapa stepada Sepada rasaba berapasa Kau tahu mau Tangkap gegap dekap :Rasaba berapasa sepada asapa badepa stepada Senin, 8 Desember 2014