Menjelang Pagi

Lelah menunggu.
Apa aku yang harus menghampirimu; lalu meninakbobokanmu,
kantuk?





Catatan pengarang: ini gaya berpuisi ngikutin gayanya Hilda Winar. "Ceritanya gini. Saya berusaha bikin puisi kayak orang orang. Ala sonian, ala haiku, ala 2,7. Tapi gak mampu. Saya gak sanggup memperkosa puisi. Akhirnya ya gitu. Jadi diri sendiri aja," katanya setelah saya mbanguni beliau. Jadi, gimana? Puisi saya sudah ala-ala Hilda Winar?

Catatan pengarang (lagi): maaf ya kalo catatan pengarangnya nya lebih panjang dibanding puisinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulasan Film: Satu Hari Nanti

Emangnya?

Ulasan dan Kritik Buku: Dua Tanda Kurung | Puisi dalam Puisi Kehidupan Handoko F. Zainsam