Pangeran dan Permennya

  Negeri Lolipopa adalah negeri pembuat permen terbaik yang pernah ada. Permen-permen yang dihasilkan sangat terkenal dan sangat disukai oleh anak-anak di seluruh dunia. Setiap pabrik permen di sana membeli gula dari toko Pak Tori Roti karena tidak ada yang bisa mengalahkan kualitas tebu yang dihasilkan oleh pabrik tebu milik Pak Tori Roti. 

      Negeri Lolipopa dipimpin oleh Raja Oriz yang sangat ramah dan baik hati. Raja Oriz selalu menerima dan mau mendengarkan pendapat-pendapat rakyatnya. Dengan begitu, ia sangat disegani dan dihormati rakyatnya
      Raja Oriz memiliki seorang putra yang bernama Tectona Grandis. Ia lincah dan kuat, sesuai namanya yang dalam bahasa latin berarti pohon jati. Meskipun kuat dan lincah, Pangeran Tona memiliki kebiasaan buruk. Ia sangat gemar makan permen dan manisan, tetapi ia kurang rajin menyikat gigi. Walaupun begitu, Pangeran Tona sangat baik hati kepada teman-temannya. Ia senang membagikan permen dan manisan kepada teman-temannya setelah bermain bola atau layang-layang bersama.
      Ayah dan ibunya sudah sering mengingatkan Pangeran Tona agar tidak terlalu banyak mengkonsumsi permen dan manisan, namun Pangeran Tona tidak mau menuruti nasihat orang tuanya. Bahkan, ia sering merengek jika persediaan permen dan manisan di istana habis.
      Sampai di suatu pagi saat Raja Oriz dan permaisurinya sedang menyantap makan pagi mereka, Pangeran Tona mengeluh pada ayah dan ibunya.
     "Ayah, Ibu.. Gigiku sakit sekali. Aku tidak bisa makan apapun."
     "Bukankah Ayah sudah sering menasihatimu agar mengurangi makan permen dan manisan?" Tanya Ayahnya dengan nada tegas namun penuh kasih sayang. 
     "Lalu aku harus bagaimana, Ayah?" tanya Pangeran Tona sambil menahan tangis. 
     "Mulai besok, Kau tidak boleh makan permen dan manisan lagi!" 
     "Tapi, Ayah.. Tidak adil rasanya kalau aku tidak boleh makan permen sedangkan teman-teman di seluruh negeri masih mengkonsumsi permen dan manisan. Rasanya pasti sedih sekali." ujar Pangeran Tona sedih. Mendengar perkataan anaknya, Rajapun berpikir keras. Dengan perasaan bimbang, ia panggil patihnya. 
     "Patih, kemari!"
     "Ada apa, Tuan?" 
     "Tolong sebarkan berita ini ke seluruh negeri. Jangan Kau kurangi, jangan juga Kau tambahi!" Setelah berkata begitu, Raja membisiki patihnya itu. 
     "Siap, Raja!" Bersama beberapa orang pengawal, Sang Patih berangkat ke seluruh negeri dan menyebarkan pesan Raja. 
     "Wahai Tuan dan Nyonya. Berkumpulah! Saya akan menyampaikan pesan Raja Oriz kepada kalian semua." 
     Dengan berat hati, Sang Patih membuka kertas yang berisi pesan Raja yang telah disalinnya.
     "Wahai rakyat-rakyat yang kucinta, dengan berat hati saya tidak memperbolehkan siapapun membuat dan menjual permen karena permen dan manisan tidak baik bagi kesehatan anak-anak. Semoga kalian daapat menerima keputusan saya."
     Mendengar pesan tersebut, seluruh pembuat dan penjual permen di negeri itu ribut. Mereka tidak dapat menerima keputusan raja yang begitu tiba-tiba. Seluruh anak di negeri itu menangis dan merengek kepada orang tua mereka. 
     Pak Tori Roti dan seluruh orang yang hadir saat itu memutuskan untuk mendatangi istana Raja dan melakukan aksi demonstrasi. 
     Pada hari dan waktu yang telah ditentukan, seluruh orang di negeri itu, dari anak-anak hingga kakek-nenek mendatangi istana Raja. 
     Mendengar keributan di depan istana, Raja Oriz ditemani dengan permaisuri dan Pangeran Tona keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi di luar sana. 
     "Ada apa ini?" tanya Raja bingung.
     Pak Tori Roti sebagai pemimpin demo maju ke depan dan berkata kepada Raja dengan santun. "Mohon maaf, Raja. Kami tidak setuju dengan keputusan Raja."
     "Keputusan yang mana?" tanya Raja makin bingung. 
     "Keputusan bahwa Raja tidak memperbolehkan kami membuat dan menjual permen. Kalau pabrik-pabrik permen ditutup, dari mana saya mendapatkan penghasilan? Selama ini, para pembuat dan penjual permen di negeri ini membeli gula dari toko saya, Raja." 
     "Iya, betul!" Seru para demonstran kompak.
     "Iya, Raja. Sejak berita itu menyebar luas, anak saya tidak mau berhenti menangis, Raja. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana bisingnya negeri ini jika seluruh anak merengek meminta permen." ujar seorang ibu sambil menuntun anaknya yang tersedu-sedu.
      "Iya, Raja!" Seru para demonstran lagi.
     "Tapi.. Permen itu dapat merusak kesehatan anak-anak kita, Bu." Raja menyahut dengan sabar. 
     "Iya, aku sudah merasakannya. Gigiku sakit karena terlalu banyak makan permen dan manisan. Aku tidak ingin kawan-kawan yang lain merasakannya." ujar Pangeran Tona sambil menahan sakit di giginya.
      Tiba-tiba, seseorang dengan jas putih maju ke depan. "Selamat siang, Raja. Saya adalah dokter gigi di negeri ini. Bolehkah saya memeriksa mulut Pangeran?" tanya Pak Dokter itu. 
      "Oh iya. Silakan, Pak Dokter." Sahut Raja. Dengan hati-hati Pak Dokter memeriksa mulut Pangeran Tona. 
      "Ah.. ini tidak terlalu parah, kok. Sebentar lagi juga akan sembuh asalkan Pangeran rajin menyikat gigi setelah makan dan sebelum tidur." Kata Pak Dokter. 
     "Jadi, aku boleh makan permen lagi, Pak Dokter?" 
     "Tentu saja boleh. Tetapi tunggu sampai sakit gigimu sembuh, ya." 
     "Ah, baiklah Pak Dokter. Terima kasih banyak." Ujar Raja sambil menjabat tangan Pak Dokter. 
     "Jadi, bagaimana Raja? Apakah kami boleh membuat dan menjual permen lagi?" 
     "Ya! Tentu boleh!"
     "Horrr....."
     "Eittssss.... Tunggu dulu! Kita sebagai orang tua harus mengingatkan anak-anak kita untuk menggosok gigi setelah makan dan sebelum tidur, yaaaaa...." 
     "Iya, Rajaaaa..." Sahut seluruh rakyat kompak. 
     "HORRRREEEEEE !!!!!!!!"
     Hari itu, seluruh masyarakat dari penjuru negeri berpesta di halaman istana dengan makanan dan minuman manis yang dibeli dari seluruh pabrik dan toko permen di negeri Lolipopa. 
     TAMAT.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulasan Film: Satu Hari Nanti

Emangnya?