Cici Kelinci

 Cici adalah seekor kelinci yang periang. Ia ramah dan senang bergaul dengan siapa saja. Di Sekolah Kelinci, Cici dikenal sebagai murid yang pandai dan rajin. Namun, ada yang aneh dengan Cici. Sudah dua hari ini Cici terlihat murung dan sedih. Biasanya ketika jam istirahat, ia sangat senang bermain petak umpet atau main karet bersama teman-temannya. Namun dua hari ini, Cici lebih senang duduk di pinggir lapangan dan hanya memperhatikan teman-temannya di lapangan.

Teman-temannya bingung dengan perilaku Cici. Ibu dan ayah di rumah juga heran dengan perubahan sikap Cici. Sudah dua hari ini Cici tidak mau sarapan, padahal ibu sudah membuat sarapan nasi goreng kesukaan Cici. Semua orang bertanya-tanya dengan perubahan sikap Cici.
Di suatu siang, tanpa sepengetahuan Cici, Ibu bertanya pada Tino, kakak Cici yang sedang mengerjakan PR di kamarnya.
“Tino, kamu tahu apa yang terjadi dengan Cici? Mengapa Cici terlihat murung belakangan ini?”
“Tino tidak tahu, Bu.” Jawab Tino.  Setelah Ibu menutup pintu kamarnya, Tino mengelus dada.
Olala! Rupanya, Tino mengetahui sesuatu tetapi tidak berani menceritakannya pada siapapun.
Setelah selesai mengerjakan PRnya, Tino memecahkan celengan kesayangannya. Celengannya itu terbuat dari tanah liat berbentuk mobil-mobilan. Uang yang ia masukan ke dalam celengannya adalah sisa uang jajan yang diberikan ibu setiap pagi sebelum ia berangkat sekolah. Setelah dihitung, ia masukan uang tersebut ke dalam tasnya dengan hati-hati.
“Besok, kamu tidak akan sedih lagi, Ci.” Kata Tino dalam hati.
Esok siangnya, setelah pulang sekolah, Tino mampir ke toko buku di dekat sekolahnya. Ia membeli sesuatu untuk Cici. Setelah itu, ia segera berlari pulang ke rumah. Ia sangat tidak sabar ingin memberikan hadiah itu untuk Cici.
Sesampainya di rumah, ia segera masuk ke dalam. Ibu sampai bingung melihat Tino berjalan terburu-buru ke arah kamar Cici. Tino sangat kecewa tidak mendapati adiknya di kamar.
“Bu, Cici ke mana?” Tanya Tino pada Ibu.
“Sedang ke warung. Ibu minta tolong padanya untuk beli terigu dan gula. Ada apa?”
“Ah.. Tidak.” Jawab Tino malu-malu sambil menyembunyikan hadiah untuk Cici di punggungnya.
Tiba-tiba, terdengar suara Cici di belakang Tino.
“Ibu, ini terigu dan gulanya, juga kembaliannya.” Cici menyerahkan sebuah kantung plastik dan beberapa lembar uang seribuan.
“Terimakasih, Ci. Tino, tadi kamu mencari Cici?” Tanya ibu pada Tino yang sedang memperhatikan adiknya itu.
“Ada apa, Kak?” Tanya Cici.
“Mmmm.. ini.. untukmu.” Malu-malu Tino menyerahkan hadiah itu pada Cici.
Cici mengambil kantung plastik hitam berisi hadiah untuknya itu. “Untuk Cici? Apa ini, Kak?”
“Mmm.. buku harian. Aku tahu buku harianmu habis, tetapi uang tabunganmu belum cukup untuk membelinya. Jadi, kubelikan saja.”
“Ahhh…. Cici suka sekali.” Cici mengeluarkan sebuah buku berwarna merah jambu dari kantung plastik dan memeluknya.
“Kamu suka?” Tanya Tino malu-malu.
“Suka sekali! Terimakasih, Kak.” Cici memeluk kakaknya dengan erat.
Ibu sekarang tahu mengapa Cici belakangan ini terlihat murung. Ternyata…
Ah, Tino, kamu kakak yang hebat!
TAMAT.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulasan Film: Satu Hari Nanti

Emangnya?