Postingan

Moksha

Jatuh cinta pandang pertama, buai-buai mesra bikin lena Waktu memang sudah melanjutkan petualangannya, namun gandang garantung membuntut bagai aku kembarannya Kaki-kaki yang merajuk, tangan-tangan yang membujuk Tak kuasa aku larut asyik masyuk, tak dinyana jantung turut menggebuk-gebuk Tabuh demi tabuh mereka mainkan, mengeroyok sunyi senyap di kejauhan Hampir aku hilang kesadaran, menari putar-putar mengikuti jiwa yang lama tak dendang Jatuh cinta aku merasa pada gerak yang membentuk prosa Lantai panggung menyebutnya drama, darahku menyebut ini moksha Catatan pengarang: Gandang garantung merupakan serangkaian alat musik perkusi khas Kalimantan Tengah. Pertama kali saya mengenalnya ketika bergabung sanggar tari di Anjungan Kalimantan Tengah, TMII. 

Sehabis Hujan Sore Itu

Titik-titik air masih terdengar sedikit kejatuhannya Pada atap, pada genang-genang air, dan pada khayal Sengaja aku buka jendela juga tirainya Bukan agar tercipta suasana romantis kala gerimis Bukan juga agar hawa sejuk menyelinap ke ruang kamar Melainkan karena lagu dangdut yang asik nyanyi dari radio si Pak Satpam di pos jaganya
Masa kecil yang kukira lupa jalan pulang ternyata kembali, lalu menubrukku dengan kecupan di sana-sini. Dia tidak jadi lebih dewasa, hanya saja dia tau cara menyenangkan hati saya yang sedang rindu-rindunya pada rumah. Jadi sebenarnya, yang sempat lupa jalan pulang itu saya atau masa kecil? Aih, memangnya penting? Ada yang lebih penting; makan es tung-tung sampai bibir belepotan memang menyenangkan! 
"Jika saja kamu membiarkan saya pergi, maka saya akan pergi. Tetapi kamu tidak begitu, maka saya tetap di sini." Ah, andai saja nona yang tadi barusan itu mengerti cara bermainnya waktu.
Mengapa, Sayang? Sayang, mengapa? Mengapa sayang? Sayang mengapa?  Bukan! Mengapa kamu?  Itu!!
Tidurlah!  Biarkan bunga tidur merekah dengan brutal dan tidak tahu diri.  Biarkan ia berlari membabi buta, Jangan ingatkan tentang lelah dan biarkan ia berhenti dengan sendirinya! Jangan biarkan bunga tidurmu lelap nyenyak! Nyatanya, suatu hari nanti --entah kapan-- , pada akhirnya ia akan lelap nyenyak dan membiarkan matahari membangunkan sesosok nyata dalam keadaan bugar kemudian tersenyum ceria . Mari doakan saja agar ia selalu sehat dan dalam keadaan bahagia.

Pada Kotak yang Kutemukan Sore Tadi

Usang. Debu di situ dan di sana. Begitulah gambaran sebuah kotak yang kutemukan sore tadi di kamar seseorang yang bisa jadi adalah penulis surat yang kutemukan suratnya di dalam kotak-yang-kutemukan-sore-tadi itu. Atau bisa jadi seseorang yang menerima.  Atau bisa jadi siapa saja. Pada kertas yang tidak lagi baru, kekuning-kuningan, dan tinta hitam kebiru-biruan. Kepada ibu, Saya tidak sedang berniat menulis panjang lebar, Bu. Maaf jika pada akhirnya surat ini terasa panjang dan sangat melelahkan bagimu. Saya tahu pasti kamu mengenal saya, tapi saya tidak mengharapkan hanya sekadar begitu, Bu. Saya ingat betul, sering kali kamu mengucapkan kalimat itu berulang kali. Selain tentunya memberi wejangan-wejangan yang mungkin serupa dengan wejangan para ibu lainnya. Seperti, jaga diri kamu baik-baik, jangan sampai menyesal kemudian hari. Saya ingat betul, Bu. Kamu biasanya mengucap itu jikalau saya melakukan kesalahan. Omong-omong, salah atau betul sesuatunya itu hanya kepala...