Ulasan dan Kritik Film: Siti | Kisah Kelam yang Manis

 


Dok. pribadi





Film independen yang berlatar di pesisir pantai Parangtritis ini berhasil memukau saya. Jangankan saya, udah nyabet banyak penghargaan, kok. Sebenarnya saya tidak tahu tahu apa-apa mengenai film ini. Ketika saya buka sinopsisnya di sini dan melihat nama kawan yang sudah almarhum, Chatur Stanis, saya merasa harus menonton. Saya segera menanyakan perihal Siti ke kawan saya yang lain, Ramdan Malik.  


“Bagus sekali. Sudah lama tak nonton film Indonesia sebagus itu. Marginalitas perempuan dan kemiskinan nelayan ironis sekali di tengah kawasan wisata Parang Tritis dan Parang Kusumo.” 


Hanya berbekal sebuah nama dan kepercayaan, saya akhirnya berangkat.   

Adegan razia tempat karaoke ilegal, sebagai pembuka, berhasil membawa efek muram Siti. Kemuraman film yang mengangkat kritik terhadap perempuan ini diperkuat dengan tampilan hitam putih, tampilan yang tidak banyak digunakan dalam pembuatan film di Indonesia. Selain itu, efek suara yang dihasilkan oleh alat musik gesek, saya tidak tahu pasti apakah itu biola atau apa, juga memperkuat suasana kelam  film ini. 

Sekar Sari sebagai pemeran utama mampu membawakan Siti kepada kepedihan yang mendalam. Saya suka dengan emosi yang ditampilkan Sekar ketika menginjak-injak cucian. Bagaimana selama ini Siti menyembunyikan perasaan kalutnya dan menumpahkan kekesalan pada baju suaminya. Kalau boleh saya nilai, Sekar cukup mumpuni. 

Tidak hanya  aktingnya saja, saya juga salut dengan kerja tim rias yang menyempurnakan  akting penari kontemporer ini dalam memerankan Siti. Saya suka gelungan rambut Siti yang berantakan dan terkesan asal.

Tokoh Mbok Darmi, ibu mertua Siti yang diperankan oleh Titi Dibyo juga menyentuh saya. Mimiknya ketika ngobrol dengan Siti di pantai menampilkan sosok perempuan sabar sekaligus kuat. Senyumnya tampak sarkastik di tengah kekalutan yang melanda keluarga anak laki-lakinya, Bagus. Akan tetapi, saya agak terganggu dengan make-up yang tampaknya terlalu tebal ketika adegan Bagas, anak Siti, minta diajari matematika. Shading pada pipi dan garis-garis kerut di wajahnya tampak tidak alami.

Menurut saya, naskah yang dibuat dan disutradarai Eddie Cahyono ini bagus sekali. Kendati mengangkat tema yang cukup serius, Eddie menyisipkan beberapa dialog yang memancing senyum.  Meski begitu, hal itu tidak melepas kemuraman Siti. Justru memperkuat.

Terlepas dari tema keperempuanan, yang kalau boleh saya bilang sebagai kajian feminisme, saya suka dengan pernyataan Bagas ketika berdebat dengan Siti setelah ia berkelahi: “Kalo dipukuli ya masa diam saja?” Hal ini mengajarkan  saya tentang harga diri.

Yang menarik lagi dari Bagas, yang diperankan oleh Bintang Timur Widodo, ia seperti punya gengsi terhadap ayahnya. Ada satu adegan ketika ia mengintip ke kamar ayahnya. Seperti ada tersirat “Aku kengen Bapak. Bapak kok meneng wae?” walaupun ia selalu mengelak jika diminta menengok atau menjaga bapaknya yang mengalami kelumpuhan dan tidak mau berbicara sepatah kata pun itu. 

Bintang memerankan tokoh Bagas dengan baik. Saya bilang malah sangat baik. Ia mampu menampilkan sosok cah lanang yang memang begitu semestinya, alami. Penonton dibuat merasa ia tidak sedang berpura-pura.   

Perihal harga diri juga saya rasa disisipkan secara tersirat oleh tokoh Bagus, diperankan oleh Ibnu Widodo. Sebagai lelaki tentulah ia merasa malu dan sangat lemah karena tidak bisa lagi membahagiakan keluarganya. Bahkan Bagus merasa sudah tidak lagi punya harga diri mengetahui istrinyalah yang berusaha melunasi hutang kapalnya.

Dalam hal ini, terlihatlah sudut pandang perempuan yang merasa lebih rendah dari suami (citra perempuan lebih rendah kedudukannya dari laki-laki). Siti merasa Bagus mendiaminya karena tidak suka ia bekerja sebagai pemandu karaoke. Kalau saya bilang, bisa saja, maksud Bagus mendiaminya adalah untuk membuat Siti merasa jemu dan akhirnya meninggalkannya. Sok tau.  Hingga pada akhirnya Siti meminta untuk bercerai, Bagus merelakannya.

Kepiluan mendalam saya rasakan ketika ia memberikan uang kepada ibu mertuanya untuk melunasi utang kapal. After all this time??? Setelah suaminya mendiamkannya, tidak bisa memberikan nafkah lahir batin, dan akhirnya merelakannya pergi, Siti tetap rendah hati menyerahkan uang itu untuk melunasi hutang suaminya. Sesungguhnya Siti adalah gambaran perempuan yang bisa kita temukan di sekitar kita. 

Eddie menuntaskan Siti dengan sangat apik. Adegan Siti berjalan terseok hingga ke bibir pantai menyempurnakan kemuraman yang dibangun sejak awal.



Oleh Sekar Ayu Tantri
Februari 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulasan Film: Satu Hari Nanti

Emangnya?

Ulasan dan Kritik Buku: Dua Tanda Kurung | Puisi dalam Puisi Kehidupan Handoko F. Zainsam