Pada Jeda Titik Koma
"Aku bingung ingin menulis apa.." kataku tetiba sembari mencoret keseluruhan kalimat yang telah kubuat.
"Mengapa?"
"Terlalu penuh kepalaku. Sampai-sampai, aku tak tahu mana yang harus kutumpahi lebih dulu. Makanya aku sering mengatakan 'kosong yang kepenuhan'. Kau paham maksudku.."
Kau diam mendengar ucapanku. Berpikir barangkali.
Tiba-tiba kau bicara; mengundang senyum.
"Mengapa tidak kau buat suatu titik temu?"
Ah, sahabat. Sejak kapan kau senang berfilosofi?
Di tengah gerimis.
Di antara asap bakaran tembakau.
Lalu apakah pertemuan kita ini suatu kebetulan atau suatu titik yang sengaja dibuat?
Titik
Titik titik titik
Titik yang panjang
...............................................
...
.
Kalau kau ingat: titik merupakan akhir, sudikah kau mengakhiri suatu pertemuan?
Tak maukah kau memberikan koma saja?
Atau barangkali pertemuan ini kau anggap sebagai lukisan pointilis? Titik-titik berwarna yang nantinya menjelma kehidupan?!
Di titik mana titik temu ini menemukan titiknya?
***
Andai bel tadi tak tergesa bunyi, aku ingin mendengarkan ceritamu lebih banyak lagi.
Jangan kau bilang ini titik, karena pendeknya perbincangan kita ini hanyalah serangkai koma yang dibikin sedemikian rupa, tahu?
Lain waktu, aku tunggu kau di tempat yang sama atau mari kita cari tempat yang lebih tentram!
Di tengah gerimis.
Di antara asap bakaran tembakau, barangkali ditambah dua gelas kopi yang pandai gurau.
Pada jeda titik koma.
/Di suatu siang, bersama Aruna Widyanata, seorang kawan lama/
"Mengapa?"
"Terlalu penuh kepalaku. Sampai-sampai, aku tak tahu mana yang harus kutumpahi lebih dulu. Makanya aku sering mengatakan 'kosong yang kepenuhan'. Kau paham maksudku.."
Kau diam mendengar ucapanku. Berpikir barangkali.
Tiba-tiba kau bicara; mengundang senyum.
"Mengapa tidak kau buat suatu titik temu?"
Ah, sahabat. Sejak kapan kau senang berfilosofi?
Di tengah gerimis.
Di antara asap bakaran tembakau.
Lalu apakah pertemuan kita ini suatu kebetulan atau suatu titik yang sengaja dibuat?
Titik
Titik titik titik
Titik yang panjang
...............................................
...
.
Kalau kau ingat: titik merupakan akhir, sudikah kau mengakhiri suatu pertemuan?
Tak maukah kau memberikan koma saja?
Atau barangkali pertemuan ini kau anggap sebagai lukisan pointilis? Titik-titik berwarna yang nantinya menjelma kehidupan?!
Di titik mana titik temu ini menemukan titiknya?
***
Andai bel tadi tak tergesa bunyi, aku ingin mendengarkan ceritamu lebih banyak lagi.
Jangan kau bilang ini titik, karena pendeknya perbincangan kita ini hanyalah serangkai koma yang dibikin sedemikian rupa, tahu?
Lain waktu, aku tunggu kau di tempat yang sama atau mari kita cari tempat yang lebih tentram!
Di tengah gerimis.
Di antara asap bakaran tembakau, barangkali ditambah dua gelas kopi yang pandai gurau.
Pada jeda titik koma.
/Di suatu siang, bersama Aruna Widyanata, seorang kawan lama/