Postingan

Kebunku

Lihat kebunku penuh dengan bunga Ada yang merah dan ada yang putih Setiap hari kusiram semua Mawar melati semuanya indah Sambil menimang-nimang si Adik, kamu menyenandungkannya. Tiap sore. Tiap habis kamu memandikannya. Kamu akan meraihnya dan mengikatnya dengan kain gendongan warna ungu terong di punggungmu. Aku hanya duduk di ujung teras dengan buku gambar dan puntungan krayon. Dan dia, si bajingan-tua-bangka itu tak melakukan apapun untuk menyenangkan keluarganya selain bermain-main dengan puntung rokoknya. -- Lihat kebunku penuh dengan bunga Ada yang merah dan ada yang putih Hari itu, sampai situ saja kamu sanggup menyanyikannya. Yang kemudian kudengar hanyalah suara jeritan dan raunganmu. Juga suara raksasa murka dan kebisingan yang tak mau lagi kuingat-ingat. -- "Lihat! Kebunku penuh dengan bunga. Ada yang merah dan ada yang putih." Kebun kita memang dari dulu penuh bunga. Bunga apa saja yang menyedapkan mata. Yang memanjakan hidung dan hasrat...

Mengairi Air

 "Aku jalani hidupku sebagaimana air mengalir." Aku akan menjadi layar, menjadi ombak, menjadi karang, menjadi angin, lautan, samudra, bahtera. Dan aku akan menjadi driku sendiri. Diriku yang mengikuti arus air semauku dan mengapung bersama ombak-ombak yang jemawa. Dengan atau tanpa mengenal arah mata angin. Dengan dan sekaligus tanpa mengenal baik diriku sendiri. Sesungguhnya aku tidak akan mengikuti maunya air yang turun dari gunung ke laut, karena akulah gunung, akulah laut itu sendiri. Akulah air atas diriku.

Di Sela Waktu yang Melonjak-lonjak Semaunya

   Cerita yang bikin sumringah mungkin hanya dimiliki oleh waktu-waktu yang melonjak girang, sedangkan waktu-waktu yang melonjak semaunya itu paling pandai membuat hati jadi penuh kerutan.    Aku telah lama beringsut dari kamar tanpa cerita yang tidak kusanga-sangka; ternyata pernah membuatku bahagia --masih membuat hati carut-marut.    Dan kamar yang sempat kusebut tadi itu telah terlupa begitu saja, bahkan mungkin sengaja  dilupa-lupakan. Ingatan yang tersisa bukanlah tentang jentera bianglala atau dialog-dialog tentang apa saja. Yang tetap tinggal hanyalah sisa tawa kita di kotak bertututup kerucut --yang bisa habis kapan saja.    Semoga kau baik dan senantiasa sehat.
Kutanya, "katanya?" "Kutanya." katanya. Tak berujung; judulnya.

Pada Waktu-waktu yang Bisa Jadi Lain

Pada waktu senggang yang lain, Di antara senggama yang sama Tak ada lagi ujung yang berkedut Atau pertemuan antara libido dan janji sehidup semati Napas-napas makin lengang Sementara jalang jadi bulan-bulanan, Yang satu menunggu tuan berpulang Pada waktu senggang yang lain, Tak ada senggama yang sama lagi Pun yang lain :Segan pulang :Segan melakukan Enggan!
Selamat datang, serunya. Ketika kutanya ke mana, ke dirimu sendiri dijawabnya. Baiklah. Silakan mampir sesekali. Berbagi cerita yang sempat lupa diceritakan ketika aku asik jelajah di negeri orang.

Belum Berubah

Bukan meragukan kemampuan mengingatmu.  Cuma mau mengingatkan.  Barangkali lupa.  Jangan tersinggung. :Tak perlu ada kata-kata (yang lebih panjang dari ini)