Ulasan dan Kritik Film: A Copy of My Mind | Sebuah Kisah Cinta

 

Dok. pribadi (biar gak hoax kalo udah nonton)






Film A Copy of My Mind adalah salah satu dari sekian banyak film yang diproduksi oleh anak bangsa. Sempat baca dari beberapa artikel, film ini telah diikutkan pada festival film di luar negri. Gak boong, hal tersebutlah yang menumbuhkan rasa ingin tahu saya: sehebat apa, sih, film ini.
  
Dibuka dengan obrolan tentang kriteria calon suami antara Sari dan pelanggan di salon kecantikan tempatnya bekerja. Saya terkesan dengan suara ramai samar suasana di ruangan tersebut. Terasa sangat nyata. Saya merasa betul-betul ada di sana. Serta merta saya langsung suka.
  
Bagi saya, Joko Anwar menampilkan detail di tiap bagian dengan amat rapi. Dari suara bising di jalanan, obrolan di kos-kosan ketika Sari masak mi instan, titik-titik peluh ketika Sari bangun tidur, ekspresi penumpang di metro mini, dan masih banyak lagi. Keapikan-keapikan tersebut mungkin bisa jadi lain jika tidak didukung oleh aktor dan kru yang kompeten. Selain itu, saya juga sangat mengapresiasi kerja para pemain pendukung dan figuran yang kalo boleh dibilang juga sangat rapi.  

Saya baru pertama kali melihat Tara Basro berakting. Setelah menonton film ini, saya berpendapat, memilih Tara sebagai aktor utama wanita di film ini sudah sangat benar. Tara benar-benar bermain cantik. Tara memang cantik (dan menawan), siapa yang gak tau keleesss?

Saya suka dengan bagaimana cara dia berekspresi. Saya suka perubahan mimik yang sangat halus ketika Sari kecewa dengan subtitle yang ngaco. Ia juga terlihat manis ketika pertama kali dihampiri Alek, ada ekspresi takut sekaligus malu-malu kucing ala perempuan. Saya suka tatapan nanar Sari ketika berada di tengah-tengah kampanye. Bahkan ketika Sari merasa canggung ketika kembali ke tempat kerjanya yang lama, Tara menampilkannya dengan baik. Saya juga suka dengan cara Sari berbicara.  Dan Tara cukup konsisten mempertahankan itu.

Hal lain yang menarik perhatian tentulah si aktor pria. Chicco Jerikho sangat menawan, saya gak boong! Rambut gondrong sebahu dan brewok yang berantakan sukses membuat saya menyumpah serapah sepanjang film. Penampilannya mirip mas-mas pasar urakan, serem, tapi ganteng. Begitulah kira-kira. Walaupun Alek tidak banyak berekspresi seperti Sari (seperti kebanyakan laki-laki yang memang jarang berekspresi), Chicco mampu mengimbangi Tara.

A Copy of My Mind punya banyak kejutan bagi penontonnya. Jalan ceritanya sulit ditebak. Dari bagian satu ke bagian lainnya seperti tiba-tiba dan terjadi begitu saja. Film ini tidak memberikan saya kesempatan untuk memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya. Walaupun film ini sad ending, film ini gak bikin nangis. Penonton lebih banyak dibikin tercengang (karena gak terprediksi, seperti yang tadi saya bilang).

Mungkin akan banyak yang menilai film ini agak “gantung” dan tidak terlalu memuaskan penonton, karena endingnya gak seperti film-film percintaan kebanyakan: yang sangat jelas antara sad atau happynyaFilm ini Semacam “ya udah. Gitu aja”. Tapi sebenarnya sih, agak “dalem”.

Saya suka ketika Alek tidak jadi berjudi dan kembali ke kosannya, kemudian ia berbaring di samping Sari, lalu dikecupnya kening perempuan muda itu. Besarnya rasa sayang Alek untuk Sari benar-benar dibuktikan dengan tidak berbicara satu patah kata pun tentang Sari ketika ia diculik. I mean, mereka baru kenal tapi Alek sudah sepeduli dan setulus itu. 

Awalnya, Sari tidak memperlihatkan seberapa besar kepeduliannya terhadap Alek, (hanya ada satu bagian: Sari menciumi kaos Alek sebagai tanda rindu) tapi akhirnya hal tersebut dibuktikan di akhir cerita. Kita tidak tahu bagaimana nasib Alek, masih hidup atau tidak, tapi akhirnya Sari kembali ke kosan Alek, untuk mengurus Bude pemilik indekos. Bagi saya ini cukup membuktikan seberapa besar perasaannya terhadap Alek.

Selain kisah percintaan, Joko Anwar nampaknya sedikit melakukan kritik. Bukan hanya konflik yang ditimbulkan oleh video percakapan antara Bu Mirna dengan anggota DPR, hal tersebut dikuatkan  dengan percakapan antara "tukang pukul" yang membicarakan soal bagaimana sulitnya mencari uang di Jakarta.

Walaupun saya agak bingung sebenarnya ini film percintaan yang dibalut kritik atau sebaliknya, intinya sangat diimbau agar anak-anak tidak menonton film ini. Terakhir, salut untuk Joko Anwar atas ceritanya, saya benar-benar merasakan energi cinta yang besar di film ini kendati tidak ada satu pun dialog “aku cinta kamu”. Bukankah itu inti dari segala hubungan percintaan?



Oleh Sekar Ayu Tantri
Februari 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulasan Film: Satu Hari Nanti

Emangnya?