Ulasan Buku: Merajut Harkat | Manusia Tanpa Kemanusiaan

 

Dok. pribadi

Merajut Harkat menguak bagaimana penderitaan kaum, yang saya sebut sebagai kaum yang dituduh, sayap kiri; terbelenggu dan terpenjara oleh kesewenang-wenangan kaum, yang menyebut dirinya aliran kanan, antikomunis! Diterbitkan tahun 2010 oleh PT Elex Media Komputindo.

"Novel ini merupakan hasil perenungan dan pengendapan selama dua puluh tahun, dan tidak bisa dilepaskan dari pengalaman hidup sang penulis yang sempat menjadi tapol selama sepuluh tahun" - Melani Budianta.

Melepas keterpengaruhan pengarang (dan teori lainnya), karena agaknya saya tidak terlalu mengenal Putu Oka Sukanta, buku ini membuka mata saya kepada sebuah kisah yang tidak banyak dibicarakan. Selama belajar sejarah di bangku sekolah, semua hanya bicara bagaimana PKI ketika peristiwa g30s itu, yang selalu terdengar tabu, dengan kejam melakukan pembantaian. Akan tetapi, tidak sedikit pun yang secara gamblang menuliskan bagaimana "pembalasan" yang dilancarkan oleh pihak oposisi setelahnya.

Kurang lebih Merajut Harkat  membuka secara terang egoisme manusia. Sesungguhnya tidak ada manusia yang ingin sekarat sendirian. Dengan iming-iming bebas dari siksaan, serta merta membeberkan siapa saja yang terlibat suatu pergerakan, tidak mau tahu siapakah mereka; lawan atau kawan sendiri. Padahal, sadar atau tidak sadar, itu adalah sebuah tindakan bunuh diri: membunuh harga dirinya sendiri, membunuh kepercayaan orang lain terhadapnya, atau desingan peluru yang nanti akan menembaknya mati.

Merajut Harkat menerangkan kepada kita penderitaan ribuan jiwa: perempuan, anak-anak, tua renta, tokoh politik, sehat bugar, sakit, sedikit sakit jiwa, waras, dan jiwa-jiwa yang tidak tahu-menahu soal pergolakan yang sedang berlangsung. Penjara sempit, kakus di dalam penjara, tidur dengan aroma pesing, jatah makan yang tidak layak adalah gambaran sehari-hari kehidupan tahanan politik!

Merajut Harkat dibawakan oleh tokoh Mawa. Saya sendiri agak bingung sebenarnya Mawa sempat tergabung dalam organisasi politik apa, tidak tersurat. Hanya ada satu bagian yang menyebutkan Mawa dituduh pernah menyebarkan buletin Mimbar Rakyat. Saya melihatnya sebagai tokoh yang lugu. Ia dikhianati temannya dan disiksa. Hingga ia melihat kepedihan seorang anak yang melihat ayahnya ditangkap, sebab pengakuan Mawa.

Begitu pedih membayangkan para penjaga penjara melakukan tindakan keji kepada tahanan karena menganggap dirinya benar; kanan, antikomunis, kami punya Tuhan! Padahal, barangkali, di mata atasannya saja mereka tidak dianggap manusia, kerdil, alat!

Membaca Merajut Harkat hingga tuntas adalah sebuah pergolakan batin. Butuh waktu setahun bagi saya untuk menyelesaikan buku ini. Namun, saya sangat menyayangkan akhir cerita yang terasa antiklimaks dan "ngambang". Setelah bertahun-tahun kehilangan harga diri sebagai tapol, Mawa dengan sangat mudah kabur dari penjara tanpa ketahuan siapapun, kecuali jiwa dan Tuhannya.

"Aku membebaskan kemanusiaanku." 
Tak ada jejak yang ditinggalkannya.


Oleh Sekar Ayu Tantri
Februari 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulasan Film: Satu Hari Nanti

Emangnya?