Ulasan Buku: Balada Dendam dan Cinta | Sebuah Ilham

 

Dok. pribadi







Buku pertama yang akan saya ulas di laman ini adalah buku Balada Dendam dan Cinta karya V. Lestari. Merupakan lanjutan dari Yang Mendendam dan Yang MencintaBuku ini kebetulan cetakan pertama, diterbitkan oleh Gramedia pada tahun 1987. 

Buku ini saya beli di toko buku bekas di Taman Mini Indonesia Indah, kalau tidak salah tahun 2013 atau 2014, saya sendiri tidak terlalu yakin. Dan baru beberapa hari lalu saya baca. Sampul depan yang berurat dan berkerut justru menarik hati saya untuk membeli, terlepas dari bagus atau tidak ceritanya. Tapi, siapa, sih yang tidak tahu V. Lestari? Bukunya sampai saat ini masih terus dicetak dan dijual di toko buku besar.

Ngomong-ngomong soal V. Lestari, ini adalah buku pertamanya yang saya baca. Di rumah tidak terlihat satu pun karyanya. Ketika di toko buku saya lebih tertarik pada banyak novel, terkecuali karya-karya V. Lestari ini. Ini semacam cerita-cerita detektif, triler, pembunuhan gitu ya, hm, pikir saya. Dan melewatinya begitu saja.

Barangkali Tuhan memang selalu punya cara "lucu" untuk menunjukan sesuatu bagi umatnya yang taat atau pun tidak. By the way,  maaf kalau agak religius, tapi saya memang cukup serius. Azeeek. 
Jadi intinya, saya merasa beruntung sudah membeli buku ini dan finally membacanya.

Agak filosofis, buku ini bercerita tentang bagaimana kita menerima dan memaafkan segala tragedi, bagaimana kita berdamai dengan diri sendiri dan orang lain, dan bagaimana kita memandang kehidupan. Buat apa, sih, kita hidup kalau bukan untuk memaafkan? Kalau boleh saya nilai, buku ini justru sangat religius, meski di dalamnya tidak tertulis ayat-ayat Al-Quran atau kitab Injil, atau kitab-kitab lainnya. V. Lestari mengemasnya dengan sangat cantik, ditambah bumbu percintaan yang bikin mata saya hampir berkaca-kaca di akhir cerita.  

Saya sangat suka pada tokoh utamanya, Amelia. Ia merupakan perempuan yang keras kepala namun tegas dan berpegang teguh pada prinsipnya. Meski begitu, Amelia bukan gadis pembangkang atau pemberontak yang suka "menabrak" aturan. Ia menghormati orangtuanya dan sangat menjaga kesantunan, kendati ia, kalau boleh saya bilang, "gerah" dengan sikap ibunya.

Hal inilah, yang saya bilang tadi sebagai pentunjuk Tuhan; soal sikap perempuan yang semestinya dimiliki oleh tiap orang, dalam konteks ini adalah SAYA (kita juga boleh, agar terlihat lebih universal, hehe). After all this time, di ulang tahun saya yang ke-21, saya benar-benar mendapat pencerahan. Kan, apa saya bilang? Emang saya bilang apa, sih, hehe.

Balik lagi ke Amelia, saya merasa, V. Lestari sangat matang dalam membentuk karakter tokoh Amelia dan menuangkannya dengan baik. Tidak tanggung-tanggung, ia membuat suatu konflik yang mempertegas karakter Amelia dan sangat menggugah. Kekuatan karakter yang diciptakan oleh V. Lestari juga saya rasakan pada tokoh-tokoh lainnya. Sayang, saya belum membaca serial pertamanya, Yang Mendendam dan Yang Mencinta, membuat saya agak kebingungan dan terus berpikir konflik apaan sih sebelumnya sampe bisa bunuh-bunuhan gitu? Dan pada akhirnya, membuat saya tidak bisa membandingkan kekuatan karakter tokoh antarbuku.

Buku ini baik untuk dibaca siapa saja: bagi yang sedang butuh hiburan, atau bagi yang merasa belum bisa berdamai pada sesuatu. Duile. Jadi, inti dari tulisan saya ini adalah saya harus baca lagi buku-bukunya V. Lestari.  Seru! 




Oleh Sekar Ayu Tantri
Februari 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulasan Film: Satu Hari Nanti

Emangnya?