Naskah Drama: PEMERANG KABUT

Naskah drama oleh Katya Sekar
Diberi judul oleh Rizki Putri Buddin
Ditulis untuk pengambilan nilai kelas teater 



"Pemerang Kabut"
 
Tokoh

Irama
Nuansa
Warna
Laras


***

Puisi "Pemerang Kabut"

Warna kini menguning
Nuansa tidak lagi teduh
Kabut hitampun mengeluh
"Aku bekerja tidak kenal waktu!"
Para raksasa sudah enggan berselaras
Kita ternyata sudah lupa pada irama
Nada sudah lupa pada ketuknya
Ia memberingas, menghantam segala rupa

***

Laras
Pagi ini tidak kutemukan 
waktu sarapan yang menyenangkan.

Irama
Ada apa memangnya?

Laras
Jangan pura-pura dungu!
Roda-roda sudah berputar
dari pukul empat pagi! 

Irama
Laras, sudah. 
Kita bisa berbuat apa?

Laras
Seharusnya ada.

***

Warna
Aku benci!
Mataku dibuat buta oleh kaca-kaca setinggi langit.
Mau apa sih, mereka?

Nuansa
Aku juga rindu 
pada permadani-permadani hijau kita itu.

Warna
Ya. 
Dibawa ke mana ya, mereka?

Nuansa
Aku maklum kalau mereka menggantikannya
dengan permadani hijau yang lain.
Sayangnya, mereka mencuri dan membawanya lari.

***

Laras
Kita hanya belum mencoba,
itu saja.

Irama
Tapi apa daya kita?
Memangnya kita siapa?

Laras
Jangan mengeluh sebelum kerja.
Kita hanya belum mencoba, itu saja.

Irama
Aku tidak mengeluh!
Sudah segala cara dilakukan 
untuk mengatasi masalah ini.
Tapi apa? Ada hasilnya?

Laras
Salah siapa kalau sudah begini?
Cih! Manusia-manusia dungu!
Kalau saja pikiran mereka lebih waras!

***

Nuansa
Uang! Uang! Uang!
Mereka mencari uang!
Harta yang kita punya dihabisinya!

Warna
Keji sekali!
Di mana perasaan mereka?
Aku rasa, uang yang mereka punya 
digunakan untuk membeli batu, 
untuk menggantikan hati mereka itu.

Nuansa
Rasanya sedih kalau sudah begini.
Kita tidak berdaya.
Uangpun aku tidak punya.
Harta kita sudah diambil satu-satu oleh para perkasa.

Warna
Yang tersisa hanyalah rasa.
Itu pun kalau masih ada sisa.

Nuansa
Masih! Pasti masih ada!
Aku tidak tahu pasti sih,
ada berapa banyak.
Tapi, pasti masih ada.

Warna
Ya. 
Hanya rasa yang bisa menjadi benteng pertahanan kita.
Rasa peduli dan cinta. Itu saja.


Jakarta, akhir 2013

Postingan populer dari blog ini

Ulasan Film: Satu Hari Nanti

Emangnya?