Pagi itu seseorang menumpahkan bebutiran gula saat membuat secangkir teh entah untuk siapa.
Aku tidak peduli. Dari bawah pintu aku hanya mengintip tanpa berniat sedikitpun untuk membenahi.
"Ah..." desah pasanganku.
"Oh..." susulku.
Begitu terus kami sahut-menyahut di tengah perburuan birahi.
"Jalang! Busuk! Keparat!" tibatiba ada yang berseru di belakang kami.
"Ratu meminta kita mengangkut persediaan makanan, kalian malah membuat keributan di sini!" bentaknya lagi.
Malas-malasan pasanganku turun dari tubuhku. Aku mendengus keras sekali di depan wajah Si Pengganggu. Kemudian kami bergabung dengan temanteman lain mengangkut gulagula tadi ke istana.
Ah, sialan!
Aku tidak peduli. Dari bawah pintu aku hanya mengintip tanpa berniat sedikitpun untuk membenahi.
"Ah..." desah pasanganku.
"Oh..." susulku.
Begitu terus kami sahut-menyahut di tengah perburuan birahi.
"Jalang! Busuk! Keparat!" tibatiba ada yang berseru di belakang kami.
"Ratu meminta kita mengangkut persediaan makanan, kalian malah membuat keributan di sini!" bentaknya lagi.
Malas-malasan pasanganku turun dari tubuhku. Aku mendengus keras sekali di depan wajah Si Pengganggu. Kemudian kami bergabung dengan temanteman lain mengangkut gulagula tadi ke istana.
Ah, sialan!