Dia itu (tadinya) gagah. Betul. Aku tidak bohong.
Dia itu (awalnya masih) kokoh. Betul. Masak aku bohong?
Dia tidak berharap diperhatikan.
Kalaupun berharap, memangnya ada yang memperhatikan?
Lagipula, memangnya dia punya hati?
Kalaupun punya hati, memangnya siapa yang peduli?

Asap-asap kendaraan mungkin (pernah terpikir untuk) peduli.
Tapi lalu bisa apa? Toh selama ini datang lalu cepat pergi.
Sampahan rokok yang terlepas dari puntungnya mungkin (pernah meniatkan diri untuk) peduli.
Tapi bocoran hujan cepat-cepat menyapunya lagi.

Dia masih kekar, tapi tampak lesu.
Dia masih (sedikit) tampan, tapi tampak sakit.
O... meski begitu, dia masih juga rela diinjakinjak.
Padahal belum tentu dia diberi gelar pahlawan.
Pahlawan, si-baik-hati, atau apa lagi namanya.
Memangnya dia peduli?
Tidak!
Sayang disayang oh jembatan penyebrangan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulasan Film: Satu Hari Nanti

Emangnya?