Beberapa bulan ini aku kosong. Kosong sebab aku tak mengisinya. Beneran, deh. Aku merasa bodoh. Tanpa membaca sesuatu yang berguna, apalagi menulis sesuatu. Tapi akhirnya aku mencoba menulis lagi setelah berbulan-bulan. Kuharap tulisanku ini tidak mempermalukan diriku sendiri di kemudian hari. Tapi mungkin, memang kita, dalam hidup, butuh jeda. Seperti yang dikatakan Chorina (Ayushita) kepada Bima (Deva) dalam Satu Hari Nanti . Sebenernya, sih, seinget gue mereka lagi ngomongin soal hubungan antara pria dan wanita. Tapi, kan, tapi, hubungan asmara toh bagian dalam hidup, kan? Film ini, seperti sebuah karya pada umumnya, berusaha memberikan hikmah, ikhtisar, dan pembelajaran bagi penontonnya. Dikemas dengan kisah cinta 2 pasangan yang kemudian sama-sama selingkuh ini lumayan banyak yang bisa "dipetik", ya. Dari soal asmara, kayak kejujuran, mau m...
Aku lupa kapan pertemuan pertama kita Tapi bisa jadi, kita belum ada apa-apa Lalu kemudian, jadi ada apa-apa Memangnya ada apa? Ada kamu dan saya Selain itu? Boleh tidak, kalau kusebut cinta? Um, boleh Tapi, jangan deh. Anggap saja tidak ada Memangnya kenapa? Kalau ada apa-apa, bukan cinta lagi namanya Gambar oleh Henry C. Widjaja
dok. pribadi Hiasan-hiasan kehidupan Menjadi indah ketika menemukan pembalikan. Kesadaran Mata rantai yang tak terputus - Handoko F. Zainsam Membaca Dua Tanda Kurung karya Handoko F. Zainsam seperti membaca kehidupan. Penuh lika-liku dan rahasia. Buku ini menyimpan banyak misteri, seperti sejatinya kehidupan. Buku yang dibuat dari tahun 2002 hingga 2014 ini memiliki misterinya sendiri lewat tokoh-tokoh yang Handoko ciptakan. Alur kehidupan dibuat berbelit dan saling membelit. Handoko pandai menyimpan rahasia kisah setiap tokohnya. Plot demi plot dikisahkan sedemikian rupa, sehingga menimbulkan pertanyaan yang besar. Cukup menarik pembaca untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Membaca halaman demi halaman, puisi demi puisi; seperti menyelami kehidupan kita sendiri. Handoko pandai membelah jiwa pembaca lewat puisi yang ia ciptakan. Puisi-puisinya seperti “tercecer” dan bertebar di tiap kata yang ia tulis. Sajak-sajaknya seakan mampu mengoyak jiwa. Cerita ini dibuka dengan s...