"Hampir gerimis." "Maksudnya?" "Iya, tadi gerimis. Tapi sebentar sekali itupun hanya sebatas titik-titik." "Oh..." "Sekarang hujan badai." "Di mana? Di rumahmu?" "Bukan. Di sini." "Kamu lagi di mana?" "Di hatimu." "Ah, kamu..." Maaf jika saya salah mengira.
Tidurlah! Biarkan bunga tidur merekah dengan brutal dan tidak tahu diri. Biarkan ia berlari membabi buta, Jangan ingatkan tentang lelah dan biarkan ia berhenti dengan sendirinya! Jangan biarkan bunga tidurmu lelap nyenyak! Nyatanya, suatu hari nanti --entah kapan-- , pada akhirnya ia akan lelap nyenyak dan membiarkan matahari membangunkan sesosok nyata dalam keadaan bugar kemudian tersenyum ceria . Mari doakan saja agar ia selalu sehat dan dalam keadaan bahagia.
Ada banyak kisah di balik jendela-jendela berembun ketika penghujan Terserah pelukisnya, kan? Kamu yang berkata demikian, kemudian hilang tanpa jawaban Saya anggap kamu sebagai salah satu pelukis jendela-jendela berembun tadi Jadi, terserah kamu saja, bukan? Lalu ini akan menjadi apa? Sekadar buih pada kopi yang lantas hilang? Atau menjadi ampasnya yang kemudian dibuang? Saya senang minum kopi, apalagi sambil duduk bersama kamu Memang kisah masa lalu, ketika pertengahan penghujan waktu itu Tapi saya bukan kopi, bukan buih, bukan ampas, atau pun asapnya Saya adalah salah satu pelukis jendela-jendela berembun ketika penghujan, dan tetap akan begitu meski kemarau duduk bersama kita; menyesap kopinya Saya adalah salah satu pelukis jendela-jendela berembun ketika penghujan Jadi, terserah saya saja, bukan? Mari minum kopi, meski kamu tidak lagi menemani